RADAR JOGJA - Tahun ajaran baru 2026/2027 telah dimulai, namun tidak semua sekolah di DIY merata mendapatkan murid baru.
Dari empat kabupaten satu kota, hampir semuanya memiliki sekolah yang kekurangan atau bahkan sama sekali tidak mendapatkan pendaftar pada SPMB 2026.
- Kabupaten Kulon Progo
Ada empat SD negeri dan dua SD Swasta yang nol pendaftar, sementara SMP negeri menyisakan sebanyak 531 kursi kosong dan enam SMP swasta nol pendaftar.
Yang paling menonjol adalah SMP Negeri 4 Pengasih di lereng Perbukitan Menoreh yang hanya memiliki empat murid baru (2 laki-laki dan 2 perempuan).
Di jenjang SMA, dari 11 sekolah negeri tercantum hanya lima yang kuotanya terpenuhi.
Yang paling parah adalah SMA Negeri 1 Kokap, dari 72 kursi tersedia hanya terisi sebanyak 28 orang saja.
DPRD sudah mendesak Disdikpora evaluasi menyeluruh, sementara regrouping sejumlah SD negeri dijadwalkan Agustus 2026.
2. Kabupaten Gunungkidul
Gunungkidul wilayah dengan catatan paling berat.
Tercatat 13 SD (9 negeri, 4 swasta) sama sekali nol pendaftar, termasuk SDN Wonolagi, SDN II Songbanyu, SDN Gelaran III, SDN Sambeng II, SDN Jaten, SDN Kemiri, SDN Widoro, dan SDN Puleireng.
Lima di antaranya (Sambeng II, Widoro Semin, Kemiri I, Jaten, dan Gelaran III) kini resmi digabung dengan sekolah tetangga lewat SK Bupati.
Baca Juga: Berkat Berani Mencoba, Siswa SRMA 15 Magelang Mulai Ukir Prestasi
Dari kuota 13.804 kursi SD se-kabupaten, hanya 6.731 kursi yang terisi. Hanya 36 dari 463 SD yang memenuhi kuota ideal.
SDN 2 Wonosari hanya mendapat dua murid baru, sampai-sampai MPLS sengaja melibatkan kakak kelas agar tidak terkesan sepi.
Di jenjang SMP, 20 sekolah swasta belum menerima murid sama sekali.
Bantul memiliki satu SD negeri di Kapanewon Dlingo yang telah tidak diizinkan buka pendaftaran sama sekali karena masuk dalam kajian regrouping.
Di sana hanya tersisa kelas 5 dan 6, menunggu siswa terakhir lulus sebelum digabung.
Di jenjang SMP, dari total 15.482 kursi se-Bantul, hampir semua penuh.
Namun SMP Negeri 2 Sanden masih kekurangan 40 murid dari kuota, dengan lokasi di wilayah selatan disebut jadi penyebab utama.
Baca Juga: Anggarkan Rp 16 Miliar untuk Pindahan Kantor DPRD Kota Magelang ke Kawasan Alun-Alun
3. Kabupaten Sleman
Di Kabupaten Sleman, rekor terendah dipegang oleh SD Negeri Kandangan 2, SDN Rogoyudan, SDN Salamrejo, dan SDN Tambakrejo yang hanya mendapat dua murid masing-masing.
Menyusul SDN Banyuraden, SDN Jonggrangan, dan beberapa sekolah lain dengan tiga siswa.
Total 78 dari 374 SD negeri Sleman (20,8 persen) dapat murid baru kurang dari 10 anak.
Diperkirakan penyebabnya adalah faktor geografis dan meningkatnya minat ke swasta yang lebih tinggi.
Berbeda dengan SD, jenjang SMA/SMK negeri Sleman justru berhasil penuhi seluruh kuota.
Baca Juga: Berkat Berani Mencoba, Siswa SRMA 15 Magelang Mulai Ukir Prestasi
4. Kota Jogja
Kota Jogja mengklaim keterisian SD negeri mencapai 79 persen (2.845 dari sekitar 3.600 kursi).
Disdikpora menyatakan hal itu sudah sesuai proyeksi demografi karena angka fertilitas kota tergolong salah satu terendah nasional, 1,66.
Tapi Wali Kota Hasto Wardoyo sendiri menyoroti hal yang sama dari sisi berbeda.
Ada sekitar 1.000 kursi gratis yang tidak diminati warganya sendiri, sementara sekolah swasta tetap diserbu pendaftar meski berbayar mahal.
Salah satunya adalah di SMP Gotong Royong.
Sekolah di tengah Kota Yogyakarta untuk keluarga tak mampu pemegang KIP/PKH/KMS.
Sekolah itu hanya mendapat tiga siswa, bertahan lewat donasi dan patungan guru honorer.