JOGJA - Masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) SDN Kintelan 2 Jogja yang berlokasi di Kelurahan Keparakan, Kemantren Mergangsan dikemas berbeda. Pihak sekolah melibatkan para kakak kelas agar suasana MPLS tidak terlalu sepi.
Kepala Sekolah SDN Kintelan 2 Jogja Kuswanto mengatakan, skema penggabungan kelas diterapkan pada materi-materi MPLS bersifat umum. Misalnya sosialisasi kesehatan dari puskesmas serta pengenalan tertib lalu lintas dari kepolisian. Mulai siswa kelas 1 hingga kelas 6 dilibatkan agar kegiatannya lebih meriah.
Dalam tahun ajaran tahun 2026/2027 ini, SDN Kintelan 2 Jogja diketahui hanya mendapatkan enam siswa. Total murid di sekolah itu dari jenjang kelas 1 hingga 6 diketahui mencapai 39 siswa.
Menurut Kuswanto, langkah penggabungan kelas tersebut diambil agar semua siswa mendapatkan edukasi penting yang sama. Sekaligus menjadi ruang bagi kakak kelas untuk memotivasi adik-adik kelas mereka yang baru masuk.
Selain itu, para guru juga berkreasi untuk memantik keceriaan para siswa baru. Salah satu inovasi sederhana yang dihadirkan adalah penyediaan area foto di hari pertama masuk sekolah. Dalam waktu dekat ini, sekolah juga berencana menghadirkan pendongeng untuk menghibur sekaligus menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter.
Meski melibatkan siswa kelas atas untuk meramaikan suasana, dia menegaskan para kakak kelas tidak dilibatkan dalam kepanitiaan inti. Hal ini dilakukan demi menjaga kualitas dan keamanan pelaksanaan kegiatan agar tetap sesuai dengan koridor kompetensi pendidik.
"Untuk bimbingan dan materi, kami tetap mengandalkan para guru dan pihak-pihak yang memang berkompeten di bidangnya," katanya.
Baca Juga: Penyebab Krisis Siswa SD Negeri Pendem Kulon Progo yang Gelar MPLS 2026 Tanpa Siswa Kelas Satu
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, fenomena krisis siswa pada jenjang SD harus disikapi guru dan kepala sekolah. Dia menyarankan agar civitas sekolah bisa mendongkrak kualitas SD negeri supaya semakin diminati oleh orang tua calon siswa.
Menurutnya, masih adanya SD yang kekurangan siswa karena manajemen sekolah yang kurang optimal. Sehingga dia berharap agar guru dan kepala SD negeri bisa terus berkompetisi untuk menaikkan mutu sekolah. "Manajemen SD masih kurang bagus, harus ditingkatkan lagi," pesannya. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja