Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Memutus Mata Rantai Geng Sekolah di DIY; Kuncinya, Siswa Baru  Berani Menolak Ajakan Senior

Fahmi Fahriza • Minggu, 12 Juli 2026 | 21:28 WIB
ilustrasi.
ilustrasi.

 

RADAR JOGJA - Momentum penerimaan peserta didik baru dimanfaatkan sejumlah siswa untuk menegaskan komitmennya menjauhi geng pelajar dan berbagai bentuk kekerasan jalanan yang masih menjadi perhatian di DIJ. Mereka berharap lingkungan sekolah menjadi ruang yang aman, nyaman, dan mendukung pengembangan prestasi.


Siswi baru SMAN 2 Bantul Fajar Oktaviani Syawala mengaku mengetahui maraknya kasus geng pelajar dan kekerasan jalanan dari berbagai pemberitaan di media sosial. Menurut lulusan SMPN 3 Imogiri itu, tindakan tersebut hanya membawa dampak buruk.


"Menurut saya, tindakan seperti itu sangat disayangkan karena merugikan diri sendiri, keluarga, sekolah, dan masyarakat di sekitarnya,"  ujarnya kepada Radar Jogja, Sabtu (11/7).

Baca Juga: Kontes Anthurium Dorong Ekonomi Tanaman Hias, Diusulkan Masuk Agenda Tahunan


Secara pribadi, Fajar mengaku cukup khawatir dengan masih adanya kasus kekerasan yang melibatkan pelajar. Karena itu, ia berharap sekolah mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman sehingga seluruh siswa dapat belajar dengan tenang.
"Saya harap lingkungan sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman sehingga seluruh siswa dapat belajar dalam kondisi yang kondusif,"  katanya.


Menurutnya, ada sejumlah faktor yang mendorong pelajar terlibat dalam geng, mulai dari pengaruh pergaulan, keinginan untuk diakui, hingga sekadar mengikuti teman. Jika suatu saat mendapat ajakan bergabung dalam kelompok yang mengarah pada kekerasan atau tawuran, Fajar memastikan akan menolaknya.


"Saya akan menolak dengan tegas karena itu sudah di luar nalar. Saya milih berteman dengan lingkungan yang membawa pengaruh positif dan fokus belajar serta kegiatan yang bermanfaat," tegasnya.

Baca Juga: Makan Bekal Bersama dan 3S di Hari Pertama Sekolah, Siasat Cegah Siswa Baru Masuk Geng


Hal senada juga disampaikan siswa baru MAN 4 Bantul Nabil Ahmad Hilabi. Lulusan SMPIT Masjid Syuhada Jogja itu mengatakan, dirinya juga mengetahui fenomena geng pelajar dari berita dan media sosial. "Menurut saya, hal seperti itu sangat merugikan diri sendiri, keluarga, dan nama baik sekolah,"  ucapnya.


Nabil mengaku sedikit khawatir memasuki jenjang SMA di tengah masih adanya kasus kekerasan jalanan. Namun, ia berharap dapat menjalani pendidikan di lingkungan yang aman dan nyaman.

Baca Juga: Disdikpora DIY Waspadai Rekrutmen Geng Sekolah saat MPLS, Cegah Kejahatan Jalanan sejak Hari Pertama


Ia menilai keterlibatan pelajar dalam geng umumnya dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan dan kurangnya pengawasan. Karena itu, ia tidak akan menerima jika ada ajakan mengikuti kelompok yang berujung pada aksi kekerasan.


"Saya akan menolak tegas dan menjauhi kegiatan tersebut karena bisa merugikan banyak pihak," katanya.


Baik Fajar maupun Nabil sepakat bahwa pelajar perlu aktif mengikuti kegiatan sekolah, memilih lingkungan pergaulan yang positif, serta saling menghormati agar tidak mudah terjerumus dalam geng pelajar.


Selain itu, keduanya mengaku mendapat pesan khusus dari orang tua sebelum memasuki bangku SMA. "Saya diberi pesan orang tua agar tetap rajin belajar, menjaga ibadah, dan bijak memilih teman selama menempuh pendidikan di jenjang SMA," tandas Nabil. 

Baca Juga: Pemkab Bantul Tak Beri Kompensasi ke PSIM Jogja, Seluruh Barang Renovasi  SSA Nantinya Dikembalikan


Terpisah, MPLS kerap menjadi momentum krusial bagi para siswa baru. Di balik sterilnya lingkungan sekolah selama masa orientasi yang diawasi ketat guru, ancaman laten regenerasi geng sekolah justru mengintai tepat setelah masa MPLS usai. 


Warung-warung di sekitar sekolah ditengarai kerap menjadi pintu masuk utama proses screening dan perekrutan anggota baru oleh oknum senior.


Salah satu siswa kelas XII SMA Muhammadiyah Imogiri Hafizh Azghananta mengatakan, mata rantai geng sekolah sebenarnya bisa diputus. Asal para siswa baru memiliki keberanian dan ketegasan sikap untuk menolak ajakan yang mengarah pada aktivitas negatif sejak hari pertama masuk kelas reguler.

Baca Juga: Bupati Grengseng Minta ASN Tinggalkan Birokrasi Kaku, Dorong Turun Langsung untuk Melayani Warga


 "Kuncinya ada di siswa baru itu sendiri. Harus bisa menolak dan jangan sungkan. Ibaratnya ditolak saja tidak apa-apa, karena sebenarnya tidak ada intimidasi atau ancaman fisik di awal," jelasnya, Minggu (12/7).


Mantan siswa SMA Muhammad 7 Jogja ini juga membeberkan, modus operandi yang digunakan oknum kakak kelas terbilang cair dan persuasif. Tidak ada sistem rekrutmen terbuka (open recruitment) yang mencolok. 


Proses pencarian kader baru itu biasanya dimulai dari obrolan ringan dan ajakan nongkrong di warung dekat sekolah setelah jam pelajaran atau saat jam pulang sekolah. 

Baca Juga: Pemprov DIY Pilih Tak Bangun Kantong Parkir Baru tapi Optimalkan Fasilitas yang Ada untuk Dukung Pedestrianisasi Malioboro


"Biasanya polanya dari situ, diawali dengan ajakan merokok bareng di warung dekat sekolah. Di momen itulah kakak kelas mulai menyeleksi dan menilai, melihat-lihat mana siswa baru yang sekiranya bisa diambil atau diajak bergabung lebih jauh," lontarnya. 


 ​Lebih lanjut Hafizh menambahkan, setelah proses pemantauan awal di warung itu kedekatan tersebut akan berlanjut ke ranah privat. Oknum senior biasanya mulai meminta nomor WhatsApp siswa baru untuk intensitas komunikasi yang lebih masif. 


Dari sana, lanjut Hafizh, para siswa baru akan terus diajak bermain ke rumah salah satu senior. Itu dilakukan guna membangun kedekatan emosional hingga akhirnya mereka tertarik dan resmi direkrut.

Baca Juga: Usai Prabowo, Kini Titiek Soeharto Datangi Tambak Udang Kebumen, Ada Apa?


Akan tetapi proses itu, menurut Hafizh, hampir dipastikan tidak akan menyentuh area steril MPLS. Sebab, selama masa orientasi formal tersebut  ruang gerak siswa baru masih dibatasi secara ketat oleh pihak sekolah dan tidak diizinkan keluar area gerbang secara bebas.


​Oleh karena itu, Hafizh menekankan pentingnya benteng pertahanan diri bagi para siswa baru sejak hari pertama sekolah dimulai.

 

 Menolak ajakan nongkrong di warung yang menjurus pada perilaku menyimpang adalah langkah preventif paling efektif untuk memutus rantai regenerasi geng pelajar dari akarnya.


"Makanya kalau dari awal siswa baru berani bersikap tegas untuk menolak, ruang gerak mereka (oknum senior) untuk melakukan seleksi, otomatis akan tertutup," ungkapnya. (iza/ayu/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#SMA Muhammadiyah Imogiri #geng pelajar #pergaulan #Pendidikan