Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perkuliahan Belum Mulai, Mikail Fajar Dwicaksono Sudah Didatangi Rektor ITB di Rumahnya Condongcatur Sleman

Delima Purnamasari • Senin, 6 Juli 2026 | 19:45 WIB
DIAPRESIASI: Mikail dengan lukisan yang membuatnya bisa diterima di FSRD ITB melalui jalur SNBP 2026. Bahkan rektor datang ke rumahnya. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
DIAPRESIASI: Mikail dengan lukisan yang membuatnya bisa diterima di FSRD ITB melalui jalur SNBP 2026. Bahkan rektor datang ke rumahnya. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)

 

 

RADAR JOGJA - Mikail Fajar Dwicaksono membuktikan bahwa bakat seni yang ditekuni secara konsisten mampu mengatasi berbagai keterbatasan. Alumni Seni Lukis SMKN 3 Kasihan, Bantul ini diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Tidak hanya lolos, dia juga diberikan apresiasi langsung oleh Rektor ITB Prof Dr Ir Tatacipta Dirgantara beserta jajarannya. 

 

Laki-laki yang tingal di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman ini mengaku tak menyangka jika orang nomor satu di kampus yang dituju akan langsung datang ke rumahnya. Rombongan sekitar 11 orang itu tidak hanya memberi apresiasi, tetapi juga uang saku, laptop, hingga piagam penghargaan. 

Baca Juga: Satu Dekade Festival Layang-Layang di Pantai Ketawang Tarik Miliaran Rupiah ke Purworejo


"Mungkin gara-gara masuk ITB itu suruh ada keterangan penghasilan dan penghasilan orang tua saya kurang. Mungkin dari itu rektor datang," katanya. 


Mikail mengakui keluarganya memang sederhana. Sang ayah bekerja sebagai buruh yang membersihkan rumah tangga dan ibunya sebagai penjual sayur. Meski demikian, semangat keduanya yang jadi inspirasinya bisa lolos pada kampus pilihan pertamanya.

Baca Juga: 104 Sekolah Rakyat Bakal Beroperasi Tahun Ini, SR Kulon Progo Dipastikan Beroperasi Tahun Ajaran Baru 2026/2027


Saat seleksi portofolio di ITB, dia mengirimkan karya berjudul "Persembahan Bumi" di atas kanvas ukuran 60 x 50 sentimeter. Dengan memakai cat akrilik dia melukiskan berbagai jenis sayuran, seperti paprika, sawi, hingga timun. Di depannya terdapat dua boneka lumpur yang tengah duduk. Lukisan realis kontemporer itu dia buat selama tiga bulan. 


"Saya menceritakan perjuangan orang tua mencari uang sampai berlumpur-lumpur untuk mendapat makanan sehari-hari guna mencukupi kehidupan saya," katanya. 

Baca Juga: Menelusuri Legenda Jatikluwih: Karomah Wali, Pohon Ajaib, dan Kisah Keteguhan Sunan Geseng di Dlingo


Laki-laki kelahiran 7 Januari 2008 ini bercerita sejak awal memang ingin masuk ITB. Kampus di Bandung itu dia nilai memberikan kesempatan belajar banyak bidang seni yang ingin diketahuinya. 


Untuk itu, ketika akan kedatangan rektor bersama jajarannya dia merasa senang dan mengaku agak malu karena videonya sempat viral di media sosial. 

Baca Juga: Siswa Sekolah Rakyat di Kulon Progo Bakal Dilatih Dua Ribu Taruna Akmil dan Akpol


"Masuk itu 27 Juli, aku berangkat tanggal 23. Harapannya waktu kuliah skill dan wawasannya bisa lebih luas. Bisa membuat ITB unggul," katanya. 


Menurutnya, dia senang melukis sejak duduk di sekolah dasar, meski tidak ada yang mengajari. Saat itu setiap pergi dari suatu tempat dia terus mengingat-ngingat detailnya dan mencoba menuangkannya dalam sebuah gambar. 

Baca Juga: Gembira Loka Zoo Jadi Destinasi Favorit Keluarga Selama Liburan Sekolah


Salah satu karya awal-awal yang dia buat dan masih dipajang hingga kini di rumah adalah gambar Garuda. Saat itu dia merasa senang karena orang tua memuji hasilnya bagus. 


"Kalau bapak, ibu, saudara itu enggak ada yang pelukis. Mungkin talenta sendiri," ujarnya.  

Baca Juga: Akhir Pahit Sang 'Pangeran': Neymar Resmi Pensiun dari Timnas Brasil Usai Tersingkir di Piala Dunia 2026


Targetnya kini adalah bisa menjalani kuliah dengan lancar dan bisa lulus tepat waktu. Lalu bisa mengejar cita-citanya menjadi pelukis dan suatu saat bisa pameran tunggal. 


Mikail mengaku sampai saat ini baru pernah menggelar pameran bersama dengan rekan-rekan sekolahnya dulu.  "Pengen banget bikin pameran sendiri, karena pernahnya pameran rame-rame," katanya. (del/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#SNBP #Konsisten #institut teknologi bandung #pelukis #bakat seni