Setelah Diresmikan Haedar Nashir, Muhammadiyah Sapen Universal School Disiapkan Jadi SD Berkelas Internasional
Fahmi Fahriza• Sabtu, 4 Juli 2026 | 20:15 WIB
Gedung baru Muhammadiyah Sapen Universal School yang baru diresmikan Haedar Nashir Sabtu (4/7). (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
BANTUL - Tingginya minat masyarakat terhadap SD Muhammadiyah Sapen membuat antrean penerimaan siswa baru telah terisi hingga Tahun Ajaran 2031/2032 mendatang, situasi tersebut menjadi salah satu alasan Muhammadiyah mengembangkan Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Tamantirto, Kasihan, Bantul.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, MSUS bukan sekadar penambahan gedung baru. Tetapi transformasi pendidikan dasar Muhammadiyah menuju sekolah berwawasan global yang tetap berpijak pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan.
"SD Muhammadiyah Sapen peminatnya begitu banyak sampai inden bertahun-tahun ke depan. Hal itu tidak bisa dicukupi ketika kita masih ada di Sapen timur saja. Maka kita kembangkan. Dengan demikian Muhammadiyah ingin melayani pendidikan untuk semua," kata Haedar usai meresmikan MSUS, Sabtu (4/7).
Menurut Haedar, tantangan pendidikan saat ini cukup kompleks, dan tidak hanya soal menyediakan akses, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di tingkat global.
"SD Muhammadiyah Sapen ini bagian dari usaha fastabiqul khairat untuk bangkit menjadi sekolah unggulan bukan hanya di Indonesia, tetapi bisa berlevel ASEAN bahkan internasional. Agenda ke situ harus kita rancang karena Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang berkemajuan," ujarnya.
Dia juga menegaskan, pengembangan MSUS mengusung konsep pendidikan yang menyeluruh. Mulai dari lingkungan belajar, fasilitas, hingga metode pembelajaran. Menuurutnya, dunia pendidikan perlu pendekatan yang holistik, baik dari ekosistem, sarana prasarana, sampai proses pembelajaran.
"Di sini ini seluruh konsep dan elemen-elemen itu akan kita lakukan secara holistik," katanya.
Selain itu, Haedar juga menekankan bahwa penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah. "Pemerintah tidak bisa sendiri menyelenggarakan pendidikan. Kami tidak berpikir soal kapital, tapi berpikir soal tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu komitmen Muhammadiyah," tegasnya.
Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Sapen Agung Rahmanto, sebelumnya memang mengungkapkan bahwa rombongan belajar di sekolahnya telah penuh hingga Tahun Ajaran 2031/2032. Bahkan, terdapat orang tua yang mendaftarkan anaknya sejak masih berusia sekitar satu bulan.
Meski permintaan sangat tinggi, pihak sekolah memilih tidak menambah rombongan belajar, terutama di gedung lama demi menjaga mutu pendidikan. "Kami tidak menambah rombel, tidak mungkin. Dan bukan itu fokusnya, fokus kami menjaga mutu dan layanan sekolah," kata Agung.
Menurutnya, sekolah selama ini lebih memprioritaskan kualitas layanan, pengembangan karakter, serta bakat dan minat peserta didik dibanding sekadar menambah jumlah siswa.
MSUS sendiri dijadwalkan mulai beroperasi pada Tahun Ajaran 2026/2027. Sekolah ini menggabungkan Kurikulum Nasional dengan pengayaan Cambridge Curriculum dan pendekatan International Baccalaureate (IB), serta menerapkan pembelajaran berbasis proyek, STEAM, coding, kecerdasan artifisial, literasi digital, hingga penguatan tahfiz Al-Qur'an, karakter, dan budaya Indonesia.
Sementara itu, Ketua Tim Pembangunan MSUS Gita Danupranata mengatakan, gedung baru setinggi enam lantai tersebut dibangun dalam waktu 274 hari dengan nilai investasi sekitar Rp 38,6 miliar.
"Bangunan baru ini dirancang untuk menunjang pembelajaran modern dengan berbagai fasilitas pendukung, termasuk teknologi keamanan gedung yang lebih mutakhir," paparnya.
Sementara itu, Ketua PWM DIY Ikhwan Ahada berharap, dengan kehadiran MSUS menjadi pemantik lahirnya sekolah-sekolah Muhammadiyah unggulan lainnya di Jogjakarta.
"Peresmian MSUS ini menjadi awal untuk mengungkit amal usaha Muhammadiyah lain agar memiliki kemauan melenting dan naik kelas dari sebelumnya," katanya. (iza)