SLEMAN - Puluhan pemangku kepentingan pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) 2026 yang digelar di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sleman, pada Rabu dan Kamis (1-2/7).
Forum nasional yang diselenggarakan atas inisiatif Lingkar Daerah Belajar (LDB) berkolaborasi dengan Pemkab Sleman ini mengusung tema, ’Membangun Ekosistem Pendidikan untuk Masyarakat Sembada’, konferensi selama dua hari itu mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat, komunitas, dunia usaha, hingga media untuk bertukar praktik baik sekaligus merumuskan langkah bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Bupati Sleman Harda Kiswaya mengatakan, pembangunan pendidikan tidak dapat dibebankan kepada sekolah maupun pemerintah semata.
Baca Juga: Pengamat Ekonomi Soroti Profesionalisme Manajer Jadi Kunci Keberhasilan Koperasi, Ini Penjelasannya
Menurutnya, keberhasilan pendidikan bergantung pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat."Pendidikan butuh keterlibatan seluruh pihak karena keberhasilan pendidikan itu hasil dari kerja bersama," katanya, Rabu (1/7).
Pemkab Sleman, kata dia, memperkuat layanan pendidikan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah desa, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Salah satu praktik baik yang dikembangkan adalah Sleman Pintar, inovasi berbasis data yang mendukung perencanaan kebijakan pendidikan, serta kolaborasi multipihak untuk mengidentifikasi dan mendampingi Anak Tidak Sekolah (ATS) agar kembali memperoleh layanan pendidikan.
Praktik baik lainnya yang dikembangkan adalah Gerakan Andum Handarbeni Penanganan Anak Tidak Sekolah (Gandheng ATS) sebagai bentuk keberpihakan kepada anak. Inisiatif ini membangun jejaring kolaborasi hingga tingkat kapanewon dan kalurahan dengan melibatkan aparat wilayah sebagai garda terdepan untuk mengidentifikasi, memverifikasi, dan mendampingi anak agar kembali memperoleh hak atas pendidikan.
Upaya tersebut didukung oleh aplikasi berbasis data terintegrasi yang memungkinkan deteksi dini terhadap anak yang berisiko putus sekolah, sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor agar pendampingan dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Dewan Penasihat Lingkar Daerah Belajar sekaligus pendiri Sekolah Cikal yakni Najelaa Shihab menilai, keberhasilan daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan tidak selalu ditentukan besarnya anggaran. Konsistensi menggunakan data dalam menyusun kebijakan justru menjadi faktor yang lebih menentukan.
"Kesuksesan pendidikan bukan semata karena anggarannya besar, tetapi karena penggunaan data yang dilakukan secara konsisten dalam setiap pengambilan kebijakan," pesannya. (**/iza/pra)
Editor : Heru Pratomo