Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dewan Pendidikan Soroti Demam Sekolah Favorit di SMPB 2026, Bukti Pemerataan Mutu Belum Optimal

Iwan Nurwanto • Selasa, 30 Juni 2026 | 14:30 WIB
lustrasi pelaksanaan PPDB
lustrasi pelaksanaan PPDB

 JOGJA - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 pada jenjang SMP di Kota Jogja menyisakan catatan kritis.

Dewan pendidikan menyoroti masih adanya sentralisasi sekolah atau demam sekolah favorit.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Jogja Khamim Zarkasih Putro mengatakan, fenomena tersebut terlihat pada tingginya animo masyarakat untuk mendaftar pada sekolah yang dianggap berkualitas.

Contohnya di SMPN 5 Jogja dan SMPN 8 Jogja.

Baca Juga: Pangkas 750 Perusahaan, Presiden Prabowo Targetkan BUMN Sisa 250 agar Lebih Efisien

Khamim menilai, sentralisasi sekolah setiap masa pendaftaran siswa baru menunjukan pemerataan mutu pendidikan belum berjalan optimal.

Kemudian juga dipicu masih kentalnya persepsi terhadap predikat sekolah favorit di suatu lembaga pendidikan.

“Akibatnya, tujuan SPMB berbasis zonasi untuk menciptakan akses pendidikan yang adil belum tercapai sepenuhnya,” ujar Khamim kepada Radar Jogja, Selasa (30/6/2026).

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga itu menyarankan agar pemerintah kota (pemkot) yang dalam hal ini Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) melakukan penguatan mutu dan identitas semua SMP negeri.

Baca Juga: Tim Panser Jerman Melempem di World Cup 2026, Jurgen Klopp: Kami Tidak Berfungsi Sebagai Tim!

Supaya seluruh sekolah bisa menjadi favorit masyarakat.

Khamim menegaskan yang diperlukan saat ini adalah komitmen dari masing-masing sekolah untuk mencambuk diri agar bisa naik level. 

“Kami berkomitmen mengawal agar SPMB menjadi instrumen pemerataan, bukan pelanggengan ketimpangan,” tegasnya.

Merespon hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja Budi Santosa Asrori tidak menampik bahwa anggapan sekolah favorit memang masih ada di masyarakat.

Baca Juga: Maroko Pulangkan Belanda Melalui Drama Adu Penalti

Namun fenomena tersebut bukan tanpa sebab. Label sekolah favorit muncul karena rekam jejak, kualitas pendidikan, serta hasil prestasi yang telah dibangun sekolah selama bertahun-tahun.

Mantan Sekretaris Disdikpora Kota Jogja itu menegaskan, pemkot saat ini tengah fokus untuk mengangkat seluruh sekolah supaya memiliki standar kualitas yang sama.

Sebab keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya dilihat dari input siswa. Melainkan bagaimana sekolah mampu memproses siswa agar memiliki performa luar biasa saat lulus. 

“Sekolah yang berhasil itu ketika inputnya mungkin biasa-biasa saja, tapi ketika lulus inputnya outputnya luar biasa,” ungkap Budi. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#smp 8 jogja #smpb 2026 #Sekolah Favorit #dewan pendidikan #SMP 5 Jogja