GUNUNGKIDUL - Pondok Pesantren (Ponpes) Ainul Yaqini di Kalurahan Sumberwungu, Kapanewon Tepus, Gunungkidul, memiliki model pendidikan berbeda dari pesantren pada umumnya.
Ponpes ini membina 239 santri putra berkebutuhan khusus dengan sistem pendidikan berbasis terapi, pembinaan karakter, dan keagamaan sejak 2005. Pendekatan ini diterapkan untuk membantu pemulihan psikologis santri.
Penyandang disabilitas di ini beragam, mulai dari disabilitas mental, hingga individu dengan penyimpangan sosial yang disebut sebagai anak spesial.
Baca Juga: Tinjau Teknologi Tanam PM-AAS, Presiden Prabowo Sebut Inovasi Pertanian Revolusioner
“Pendekatan pendidikan tersebut untuk memulihkan kondisi psikologis sekaligus membangun kemandirian para santri,” ujar salah satu pengasuh Ponpes Ainul Yaqin Fatmawati, Jumat (26/6/2026).
Ia menyebutkan, proses pembinaan dibagi menjadi tiga kelompok sesuai kemampuan masing-masing santri. Di antaranya kelas serba bantu bagi anak yang membutuhkan pendampingan penuh.
Kelas arahan bantu bagi santri yang mulai belajar mandiri, serta kelas remaja mandiri untuk santri yang kondisinya lebih stabil.
Baca Juga: Penjualan Pertashop Anjlok Buntut Kenaikan Harga Pertamax
"Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga pola pendampingannya juga disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan masing-masing," ujarnya.
Menurut Fatmawati, tantangan terbesar justru muncul saat menerima santri baru. Sebagian besar masih mengalami tantrum, mudah marah, merusak barang, bahkan melakukan tindakan yang membahayakan orang di sekitarnya.
Ia menuturkan, proses adaptasi biasanya membutuhkan waktu sekitar 40 hari sebelum perubahan perilaku mulai terlihat. Selama masa tersebut, para pengasuh melakukan pendampingan secara intensif melalui pendekatan spiritual dan psikologis.
"Biasanya setelah melewati 40 hari kondisinya mulai membaik. Kami memiliki tiga metode, yaitu mencintai masalah dengan salat, menjadikan masalah sebagai bahan kajian, dan berpikir positif melalui amal saleh," jelasnya.
Fatmawati mengaku telah banyak menghadapi berbagai pengalaman selama mendampingi santri berkebutuhan khusus. Mulai dari dipukul, ditarik jilbab, hingga disiram sayur bercampur cabai saat proses adaptasi berlangsung.
Namun, kata dia, pendekatan yang sabar dan konsisten mampu membangun hubungan emosional dengan para santri.
"Di awal memang berat, tetapi setelah dilakukan pendekatan mereka jauh lebih tenang. Yang kami utamakan adalah memastikan proses pemulihan sekaligus memberikan pendidikan sesuai kebutuhan masing-masing anak," terangnya.
Selain pembinaan mental dan keagamaan, Ponpes Ainul Yaqini juga menyelenggarakan pendidikan formal sembilan tahun, pembelajaran Alquran dan hadis, pengetahuan umum, keterampilan kewirausahaan, hingga teknologi yang disesuaikan dengan kemampuan santri.
Pesantren juga menanamkan budaya religius dalam kehidupan sehari-hari serta mendorong santri menghafal Alquran, membaca Alquran dengan tartil, hingga menguasai bahasa Arab dan Inggris.
Fatmawati berharap pesantren yang dipimpinnya terus menjadi pusat pendidikan dan terapi bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
Baca Juga: Warga Tegalwangi Kekurangan Air Bersih, Pamsimas Sering Mati, Mulai Andalkan Bantuan Droping
Menurutnya, setiap anak memiliki potensi untuk berkembang apabila mendapatkan pendampingan yang tepat, lingkungan yang menerima, serta pendidikan yang menghargai perbedaan.
"Visi kami adalah menjadi pusat unggulan pendidikan, pengkajian, dan pemasyarakatan bagi anak berkebutuhan khusus yang Islami, sehingga mereka mampu hidup mandiri dan mengamalkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita