JOGJA - Masih gelap ketika alarm berbunyi pukul 03.00 dini hari. Kala banyak orang terlelap, Anisa Nurmalitasari sudah bergumul dengan buku.
Di malam hari sebelum tidur, ia membuka buku hingga menjelang pukul 23.00.
Di balik setiap halaman yang dibaca, tersimpan mimpi besar yang terus ia pupuk sejak kecil, menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).
Mimpi itu kini menjadi kenyataan. Gadis yang akrab disapa Nurma itu berhasil diterima di Prodi Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Tidak hanya itu, ia juga memperoleh beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen, sehingga dapat berkuliah tanpa membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) sepeser pun.
Di rumah sederhana mereka di kawasan Notoyudan, Kota Jogja, kabar itu disambut tangis haru seluruh keluarga.
Baca Juga: Perluas Pasar Nasional-Internasional, Kemasan Mie Lethek Yu Murti dari Trimurti, Bantul Lebih Modern
"Saya tidak berani membuka sendiri pengumumannya. Yang membuka keluarga. Begitu tahu lolos, rumah langsung penuh teriak dan tangis. Itu momen luar biasa bagi kami," ujarnya, Jumat (26/6/2026).
Mimpi kuliah di UGM sebenarnya sudah tumbuh sejak ia duduk di bangku sekolah dasar.
Namun pilihan terhadap Program Studi Gizi mulai mantap ketika ia menginjak kelas X di SMAN 1 Jogja.
Menurutnya, makanan dan kesehatan merupakan kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia.
Dari situlah ia ingin memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
"Alasan utama saya, karena makanan dan kesehatan itu hal yang sangat fundamental bagi kehidupan.
Saya ingin melalui ilmu gizi bisa memberi kontribusi positif pada masyarakat," katanya.
Keyakinan itu begitu kuat hingga ia hanya mencantumkan satu pilihan jurusan saat mendaftar SNBP.
Baca Juga: PT BPR BKK Kebumen Siap Gabung ke PT BPR Satu Jateng
Keputusan tersebut diambil setelah berdiskusi dengan keluarga, guru bimbingan konseling, hingga melakukan salat istikharah.
"Saya sudah mantap memilih Gizi UGM. Setelah mempertimbangkan semuanya, saya semakin yakin di situlah jalan saya," tuturnya.
Perjalanan menuju "Kampus Biru" tentu tidak mudah. Nurma mengaku mulai menjalani rutinitas belajar sejak pukul tiga pagi ketika memasuki kelas XII, meski tidak dilakukan setiap hari.
"Sebenarnya seminggu sekitar tiga kali. Tapi menjelang TKA selama sebulan penuh saya belajar dari pagi sampai malam.
Yang membuat saya konsisten karena mimpi saya besar, jadi perjuangannya juga harus besar," ucapnya.
Selama ini juga beredar anggapan bahwa ia meraih prestasi tanpa mengikuti bimbingan belajar (bimbel).
Nurma meluruskan informasi itu. Ia mengaku pada awal SMA memang belum mampu mengikuti les.
Namun memasuki akhir kelas XI, ia memperoleh kesempatan belajar di sebuah lembaga bimbel yang memberikan pendampingan secara cuma-cuma karena kondisi ekonomi keluarganya.
Selain itu, ia juga memanfaatkan berbagai platform digital seperti YouTube, kanal WhatsApp, hingga teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu memahami materi yang belum dikuasainya.
"Kalau masih ada yang belum paham, saya akan bertanya ke AI sampai benar-benar mengerti," katanya.
Di balik perjuangan akademiknya, ada masa-masa ketika rasa lelah dan putus asa datang menghampiri.
Namun setiap kali itu terjadi, ia memilih berhenti sejenak untuk mengingat kembali tujuan yang sedang diperjuangkan.
Nurma sangat menyadari, keberhasilannya masuk di UGM juga tidak bisa dilepaskan dari peran besar kedua orang tuanya.
Sang ayah, Agus Nurhadi, sehari-hari menghidupi keluarga dengan memproduksi camilan kacang yang dititipkan ke puluhan angkringan di sekitar Jogja.
Di sela kesibukannya, ia kerap mengantar putrinya belajar hingga malam di perpustakaan karena suasana rumah dinilai kurang kondusif untuk belajar.
Sementara sang ibu, Sri Damaryati, menjadi sosok yang juga terus menjaga semangat putrinya agar tidak gentar menghadapi keterbatasan ekonomi keluarga.
"Kalau ingin mengubah ekonomi, harus dimulai dari pendidikan. Jangan khawatir dengan keadaan ekonomi yang kurang baik.
Terus belajar, optimistis dan berdoa kepada Allah. Setiap kesulitan pasti ada kemudahan," pesan sang ibu yang hingga kini selalu diingat Nurma.
Baginya, doa dan dukungan kedua orang tua adalah alasan terbesar ia mampu bertahan melewati setiap tantangan.
"Tanpa peran besar dan doa orang tua, mungkin saya tidak akan bisa sampai di titik ini," ungkapnya.
Kini, sebelum resmi memulai perkuliahan, Nurma terus mempersiapkan diri.
Ia ingin aktif mengikuti kepanitiaan, mengembangkan kemampuan komunikasi, serta memanfaatkan setiap kesempatan belajar selama menjadi mahasiswa UGM.
Sebab, sejak masih di SMA pun Nurma memang termasuk kategori siswi yang aktif.
Ia pernah menjadi ketua sie Literasi, wakil ketua departemen masjid rohis Al-Uswah, serta anggota All Nation Teenagers di sekolahnya.
Nurma sadar, banyak siswa lain di luar yang kondisinya mungkin tidak jauh berbeda dengan dirinya.
Secara lugas ia berpesan agar tidak menjadikan keterbatasan ekonomi sebagai alasan untuk berhenti bermimpi.
"Jangan pernah menyerah dengan keadaan apa pun. Jangan terlalu memikirkan apa yang belum terjadi.
Yakinlah ketika kerja keras bertemu dengan ibadah yang tekun, selalu ada jalan," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun