KEBUMEN - Aksesibilitas pendidikan tinggi dinilai menjadi salah satu kunci dalam upaya menekan angka pengangguran. Hal ini ditegaskan Direktur Utama Universitas Terbuka (UT) Purwokerto Prasetyarti Utami saat mendampingi kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar di Kebumen, Kamis (25/6).
Prasetyarti menjelaskan, sebagai entitas dunia akademisi ia merasa terpanggil untuk ikut berkontribusi dalam penanganan pengangguran.
Ia menegaskan, pendidikan tinggi sejatinya tidak hanya berperan untuk memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membekali masyarakat untuk memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja.
Baca Juga: Pasar Keuangan Masih Bergejolak, Ekonom UGM Tekankan Pemerintah Stop Kebijakan yang Berubah-ubah
"Sekarang banyak perusahaan menginginkan pekerjanya sarjana. Nah ini tugas perguruan tinggi membuka akses kemudahan seluas-luasnya," ucanya kepada Radar Jogja.
Bagi ia, semakin luas akses layanan pendidikan perguruan tinggi kepada masyarakat, semakin besar pula peluang terciptanya tenaga kerja yang kompeten dan siap bersaing.
Tak hanya itu kampus menurutnya juga perlu membuka kran kerjasama dengan dunia industri. Langkan ini agar kurikulum kampus dapat selaras dengan kebutuhan perusahaan.
Baca Juga: Was-Was Desil DTSEN Kurang Tepat Sasaran, Dewan Dorong Perubahan Regulasi Penerima JPD
"Kami pun ingin hadir menjabarkan Asta Cita Presiden. Bagaimana perguruan tinggi semakin meluas dan membawa manfaat," ucapnya.
Prasetyarti menyebut, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang perguruan tinggi nasional berada di angka 32,89 persen. Data tersebut menurutnya mencerminkan kondisi pendidikan di Indonesia masih tertinggal dengan negera tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Ia menilai masih terdapat tantangan yang dihadapi untuk meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi. Seperti keterbatasan ekonomi hingga fleksibilitas jam belajar.
Baca Juga: Temui Kader Pendamping Keluarga, Menteri Kemendukbangga Wihaji Edukasi Penyaluran MBG 3B di Sleman
Kondisi ini yang kemudian pihaknya perlahan merumuskan suatu kebijakan agar kampus ramah bagi mahasiswa dengan berbagai latar belakang ekonomi dan pekerjaan. Ia pun tak ingin pendidikan tinggi menjadi momok untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat.
"Pendidikan tinggi seharusnya tidak boleh menjadi sekat. Bisa memberikan peluang yang sama," katanya.
Salah satu calon mahasiswa Agustina Maheswari, 21, mengatakan, meniti karier pekerjaan sambil menuntaskan program studi sarjana sebetulnya dapat berjalan beriringan.
Semua bergantung kemauan kuat pada pribadi masing-masing. Ia yakin lewat status lulusan perguruan tinggi akan memberkan dampak positif terhadap jenjang karier ke depan. "Tinggal diatur niatnya saja sih. Harus pintar bagi waktu juga," ujarnya. (fid)
Editor : Heru Pratomo