MUNGKID - Daya tampung penerimaan siswa di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 43 Magelang untuk Tahun Ajaran 2026/2027 dipastikan terbatas. Tahun ini, sekolah hanya membuka kuota sekitar 30 siswa baru, turun dari 100 siswa pada angkatan pertama.
Kepala SRMA 43 Magelang Sri Redjeki menjelaskan, proses penerimaan tidak dilakukan seperti sekolah pada umumnya. Seleksi sepenuhnya dilakukan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) bekerja sama dengan dinas sosial dan sejumlah pihak terkait, dengan basis data keluarga desil 1 dan desil 2. "Jadi siswa yang masuk benar-benar dari keluarga yang membutuhkan," ujar Sri Redjeki di sela open house Sabtu (20/6).
Dia menyebut, proses penjangkauan di lapangan telah berjalan dan saat ini sudah ada nominasi calon siswa. Namun, keterbatasan fasilitas membuat sekolah belum bisa menampung lebih banyak peserta didik baru.
Baca Juga: Nekat Terobos Palang Pintu, Tiga Pemotor di Kebumen Tewas Tertemper KA Taksaka
Dia mengatakan, kondisi ini terjadi karena SRMA 43 Magelang masih menunggu pembangunan lokasi permanen. Selama ini, kegiatan belajar mengajar masih berlangsung di kompleks Sentra Antasena Salaman sejak pertama kali beroperasi pada Juli 2025.
Sri Redjeki menyebut, ketika lokasi permanen sudah siap, setiap angkatan bisa mencapai sekitar 120 siswa atau empat rombongan belajar (rombel). Tapi untuk tahun ajaran mendatang, sekolah hanya membatasi sebanyak 30 siswa.
Meski belum memiliki gedung permanen, SRMA 43 telah menunjukkan perubahan signifikan pada para siswanya, baik dari sisi akademik maupun nonakademik. Berdasarkan hasil pengukuran, sekitar 80 persen siswa memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, bahkan 10 persen di antaranya masuk kategori superior.
Baca Juga: Kebocoran PAD Menjadi Sorotan DPRD dan Pemkab Kulon Progo, Ini Penyebabnya
Meski demikian, kata dia, sekolah tetap menerapkan prinsip inklusi. Siswa dengan kemampuan di bawah rata-rata tetap mendapatkan pendampingan penuh, baik dalam kegiatan belajar maupun kehidupan sehari-hari di asrama.
"Pagi mereka belajar seperti sekolah biasa sampai sore. Setelah itu ada pendampingan dari wali asuh dan wali asrama sampai malam. Jadi pembinaan berjalan hampir 24 jam," bebernya.
Plt Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang David Rudiyanto mengatakan, pemerintah daerah terus menyiapkan fasilitas tambahan guna mendukung peningkatan daya tampung. Untuk sementara, pemkab tengah merehabilitasi bangunan di kawasan Pusdiklat Pamong Praja Tegalrejo dan kini juga difungsikan sebagai SRMA.
"Kami siapkan tempat sementara sambil menunggu pembangunan lokasi permanen di Kaliangkrik yang masih berproses dengan Kementerian Kehutanan," paparnya.
Seorang siswa, Usman Ardiansyah mengaku, kehidupan di sekolah berasrama memberikan pengalaman yang jauh berbeda dibanding sebelumnya. Terlebih, fasilitas yang diberikan pun cukup memadai.
Berasal dari keluarga buruh, Usman menyebut, sekolah ini sangat membantu meringankan beban orang tuanya. Terlebih ayahnya sedang tidak bekerja karena sakit. "Orang tua jadi tidak perlu memikirkan biaya sekolah saya," katanya.
Selama setahun terakhir, dia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan, termasuk membatik dan pelatihan kesamaptaan di lingkungan militer. Pengalaman-pengalaman itu menjadi hal baru yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. (aya/eno)