Hari pengambilan rapor biasanya menjadi momen sederhana. Orang tua datang ke sekolah, bertemu guru, lalu pulang bersama anak dengan rapor hasil belajar. Namun, bagi Zoya Nazira Alifiana, siswa kelas I SDN Rejowinangun 4 Kota Magelang, momen itu berubah menjadi pengalaman yang tak biasa.
Di tengah deretan wali murid yang sebagian besar didampingi para ayah, Zoya datang tanpa sosok itu. Ayahnya telah meninggal dunia dua tahun lalu. Sejak saat itu, ia tumbuh bersama ibu dan dua saudaranya.
Namun pada Jumat (19/6), kursi kosong di samping Zoya tak benar-benar kosong. Lantaran Wali Kota Magelang Damar Prasetyono datang dan mengambilkan rapor Zoya.
Baca Juga: Sekretariat DPRD Kota Jogja Pelajari Sistem Teknologi Digital Kehumasan di Kota Bandung
Di hadapan teman-temannya, Zoya menerima rapornya dengan senyum semringah. Menggenggamnya erat seperti anak-anak lain.
Karena sosok ’ayah’ yang mendampinginya hari itu adalah orang nomor satu di kota. Sementara di sudut lain, tampak sang ibu, Dwi Anita, warga Kampung Nambangan yang tak mampu menyembunyikan haru. Ia tak pernah menyangka anaknya akan mendapatkan perhatian seperti itu.
Sejak kepergian suaminya, Dwi Anita membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Zoya, yang kini berusia tujuh tahun, menjalani hari-harinya tanpa kehadiran sosok ayah.
"Saya bahagia sekali. Teman-teman Zoya sebagian besar diambil ayahnya masing-masing. Tapi Zoya, ayahnya sudah tidak ada," ujarnya lirih.
Kehadiran Damar di ruang kelas itu bukan sekadar kunjungan simbolis. Ada pesan yang ingin disampaikan. Bahwa kehadiran seorang ayah dalam kehidupan anak bukan hal sepele.
Momen tersebut merupakan bagian dari gerakan yang sedang didorong Pemkot Magelang, yakni Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (Gemar), yang diatur melalui Surat Edaran Nomor 400.13.1/621/300. Melalui gerakan ini, para ayah didorong untuk terlibat langsung dalam pendidikan anak, setidaknya melalui kehadiran sederhana saat pengambilan rapor.
Baca Juga: Catat! Pasar Kangen TBY 2026 Segera Hadir dengan Total 294 Tenant: Ini Jadwalnya
Menurut Damar, keterlibatan ayah dalam pengasuhan menjadi isu penting yang kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya besar terhadap perkembangan anak.
"Kami ingin memperkuat peran ayah dalam pendidikan anak, sekaligus menjawab fenomena fatherless yang semakin mengkhawatirkan," terangnya usai mengambil rapor.
Dia menegaskan, kehadiran ayah bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal keterlibatan emosional yang dirasakan anak. "Itu tentang bagaimana seorang anak merasakan kehadiran sosok ayah, lahir maupun batin," kata Damar.
Di hadapan Zoya, Damar menyampaikan pesan sederhana. Yakni agar tetap semangat belajar, patuh kepada orang tua dan guru, menjaga sopan santun, serta menyayangi sesama. Zoya sendiri tampak menikmati momen tersebut. Ia berdiri percaya diri di depan kelas, tersenyum sambil memegang rapornya. (pra)
Editor : Heru Pratomo