KEBUMEN - Pemerataan akses pendidikan di sekolah negeri di Kabupaten Kebumen dan Purworejo tampaknya bakal sulit terwujud. Kepastian ini diihat dari daya tampung lulusan siswa SMP yang tidak sepadan dengan kuota penerimaan calon siswa jenjang SMA.
Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 9 Provinsi Jawa Tengah Maryanto mengatakan, terdapat ketimpangan antara jumlah lulusan SMP dan alokasi siswa baru di tingkat SMA. Keterbatasan daya tampung ini karena hanya tersedia 40 persen kuota siswa baru. "Kuota itu masing-masing sekolah. Kalau se Jawa Tengah prosentasenya hanya bisa menampung sekitar 40,2 persen dari lulusan SMP," ucapnya kepada Radar Jogja Kamis (18/6).
Baca Juga: Sudah Menjadi Tersangka, Pemkab Kulon Progo Segera Berproses Mengurus Pemberhentian Lurah Garongan
Atas kondisi tersebut calon siswa baru harus mencari alternatif pendidikan lain, seperti di sekolah swasta maupun lembaga pendidikan berbasis agama. Dia menyebut pada tahun ini hanya tersedia sekitar 6.000 kuota siswa baru untung jenjang sekolah menengah atas. "Mayoritas anak lulusan SMP tahun ini belum bisa tertampung di sekolah negeri. Sekolah swasta nanti akan membantu," ucapnya.
Dia mengungkapkan, Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA berbasis online pada tahun ini dipastikan lancar. Pemerintah melalui dinas terkait juga terus melakukan evaluasi agar tidak menemui hambatan dalam pelaksanaan SPMB. "Server kami mandiri. Dikembangkan sudah dua tahun ini dan pasti ada evaluasi," tegas Maryanto.
Baca Juga: Jaga Stabilitas Finansial Klub, PSIM Jogja Tak Ingin Jorjoran Beli Pemain
Sebagai antisipasi kendala, panitia SPMB di berbagai jenjang terus memantau perkembangan. Pihaknya juga terbuka manakala masyarakat hendak memberi masukan perihal SPMB. Dia juga menegaskan dalam pelaksanaan penerimaan murid baru telah terdapat komitmen untuk menghindari segala praktik kecurangan. "Semua sudah online. Tidak bisa main-main. Dan, itu terbuka," bebernya.
Sementara itu, salah satu orang tua siswa Kurniawan, 45, mengaku terbatasnya kuota siswa baru di SMA memang menjadi tantangan tersendiri. Dia bersama anaknya perlu mengambil langkah cermat sebelum masuk SMA karena persaingan semakin ketat di tengah keterbatasan daya tampung. "Anak saya terus monitor. Sekarang ada tes akademik, harus jeli pilih sekolah. Kompetisinya semakin berat," ujarnya. (fid)
Editor : Sevtia Eka Novarita