JOGJA - Pemkot Jogja dipastikan menggunakan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai salah satu jalur untuk masuk ke sekolah negeri. Khususnya pada jenjang SMP. Sistemnya mirip seperti Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang dulu pernah diimplementasikan.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja Budi Santosa Asrori mengatakan, nilai TKA bisa menjadi salah satu cara untuk masuk ke SMP negeri melalui jalur prestasi khusus. Kuota jalur tersebut menyentuh 15 persen dari daya tampung sekolah.
Berdasarkan data Disdikpora Kota Jogja, untuk wilayah Jogja rata-rata nilai TKA pada mata pelajaran matematika mencapai 67,15. Sementara bahasa Indonesia rata-rata nilainya menyentuh 78,26. Nilai tertinggi mata bahasa Indonesia tercatat dengan 88,64. Lalu nilai tertinggi matematika di angka 85,58.
"Jadi, ini untuk seleksi yang lebih fair karena menggunakan (indikator) yang langsung terukur. Karena kalau pakai nilai lebih terukur,” ujar Budi saat dikonfirmasi, Minggu (14/6).
Baca Juga: Ada Efisiensi Besar-besaran, Disdukcapil Bantul Fokus Memaksimalkan Tiga Layanan Adminduk
Kendati demikian, Budi menjelaskan nilai TKA tidak menjadi penentu utama masuk sekolah negeri melalui jalur prestasi khusus. Lantaran prestasi khusus juga mewadahi prestasi nonakademik dan prestasi akademik tingkat daerah atau hasil nilai Tes Kemampuan Akademik Daerah (TKAD).
Adapun skemanya, calon siswa yang pernah mendapatkan juara satu hingga tiga pada kompetisi akademik maupun non akademik tingkat nasional maka bisa langsung memilih sekolah. Kemudian dalam penggunaan TKAD, sekolah dasar bisa mengirimkan 10 persen siswa terbaiknya untuk mengikuti seleksi prestasi khusus.
Selain jalur prestasi khusus, mantan Sekretaris Dindikpora Kota Jogja itu mengungkapkan ada sejumlah jalur pendaftaran lain dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Adapun kuota terbesar di jalur domisili daerah dengan kapasitas 40 persen dari daya tampung sekolah.
Kemudian jalur prestasi umum yang bisa menggunakan gabungan dari nilai rapor, TKA, TKAD, dan prestasi nonakademik dengan kuota 10 persen dari daya tampung sekolah.
Kemudian yang lain seperti jalur radius dengan kuota 5 persen, afirmasi penyandang disabilitas sebesar 6 persen, afirmasi keluarga penerima jaminan perlindungan sosial sebesar 19 persen, jalur mutasi dan kemaslahatan guru sebesar 5 persen, dan kelas khusus olahraga di SMPN 13 Jogja paling banyak 64 siswa. “Prestasi khusus itu, sebelumnya bibit unggul dan prestasi nasional,” jelas Budi. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun