MAGELANG - Kota Magelang menempati peringkat pertama hasil tes kemampuan akademik (TKA) tingkat Jawa Tengah untuk jenjang SD dan SMP. Capaian ini mempertegas posisi kota tersebut sebagai salah satu daerah dengan performa pendidikan terbaik. Meski menyisakan pekerjaan rumah pada aspek numerasi.
Berdasarkan pengumuman resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Jumat (5/6), capaian nilai peserta didik Kota Magelang unggul pada dua kompetensi utama, yakni literasi dan numerasi.
Pada jenjang SD, sebanyak 2.095 siswa mengikuti TKA dengan rata-rata nilai Bahasa Indonesia 76,23 dan Matematika 61,34, sehingga total rata-rata mencapai 137,57.
Sementara itu, pada jenjang SMP, dari 3.733 peserta, rata-rata nilai Bahasa Indonesia tercatat 76,22 dan Matematika 56,68, dengan total rata-rata 126,90.
Angka tersebut menunjukkan dominasi kemampuan literasi siswa, namun juga mengindikasikan adanya kesenjangan pada kemampuan numerasi yang relatif lebih rendah, terutama di tingkat SMP. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Nurwiyono Slamet Nugroho menyebut, hasil ini merupakan buah dari proses panjang yang tidak instan.
Menurutnya, persiapan TKA dilakukan melalui pendekatan sistematis yang melibatkan peningkatan kapasitas guru hingga pemetaan kemampuan siswa secara berkala.
Baca Juga: Mensesneg Prasetyo Hadi Buka Suara: Dari Kasus Korupsi Wamen, Pelantikan BGN, hingga Isu Reshuffle
Tidak hanya fokus pada siswa, lanjut dia, guru didorong untuk lebih memahami konsep soal berbasis kompetensi serta menyusun instrumen evaluasi. "Hingga membaca hasil capaian siswa secara detail," ujarnya, Jumat (5/6).
Dia menjelaskan, pelaksanaan try out menjadi satu instrumen penting untuk memotret kemampuan riil siswa sebelum menghadapi TKA. Hasil dari uji coba tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan intervensi yang tepat, termasuk pemberian pendalaman materi bagi siswa yang masih membutuhkan penguatan.
Ke depan, disdikbud berencana memperkuat pembelajaran berbasis penalaran tingkat tinggi sejak kelas awal. Upaya ini diarahkan untuk mengurangi kesenjangan antara kemampuan literasi dan numerasi, sekaligus membangun fondasi berpikir kritis pada siswa.
Baca Juga: Penggunaan QRIS Tumbuh 62,19 Persen, Jadi Indikator Menguatnya Digitalisasi Ekonomi di DIY
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menilai, capaian ini sebagai indikator bahwa ekosistem pendidikan di daerahnya berjalan cukup solid. Namun, dia menekankan, keberhasilan tidak boleh berhenti pada capaian angka semata.
"Yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak memiliki kemampuan bernalar, memecahkan masalah, dan siap menghadapi tantangan ke depan," katanya.
Dia juga menyoroti pentingnya peran kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah dalam menjaga konsistensi kualitas pendidikan. Tanpa dukungan bersama, capaian akademik dinilai sulit dipertahankan dalam jangka panjang. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo