JOGJA - Sebanyak 44.972 peserta mengikuti ujian masuk (UM) UGM computer based test (CBT) 2026 untuk memperebutkan 3.729 kursi program sarjana dan sarjana terapan jalur mandiri di Universitas Gadjah Mada yang berlangsung 2–8 Juni.
Tingkat persaingan pun ketat, dengan jumlah pendaftar hampir 45 ribu orang, rata-rata satu kursi diperebutkan lebih dari 10 hingga 13 peserta.
Rektor UGM Prof Ova Emilia mengatakan, kampus terus melakukan penyempurnaan penyelenggaraan seleksi setiap tahun. Termasuk memperkuat sistem pengawasan untuk mengantisipasi berbagai bentuk kecurangan yang berkembang seiring kemajuan teknologi.
Baca Juga: Barang Terus Terbakar hingga Harus Kuras Septiktang, Kerugian Pemilik Rumah Seyegan Capai Rp 70 Juta
UGM menerapkan sejumlah langkah pengawasan, mulai dari pemeriksaan peserta sebelum memasuki ruang ujian hingga pembatasan barang bawaan yang dapat dibawa ke dalam ruang tes. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kredibilitas dan keadilan proses seleksi.
"Dengan perkembangan teknologi saat ini, potensi kecurangan bisa muncul berbagai bentuk. Karena itu, kami terus perkuat mitigasi dan pengawasan agar seleksi berjalan adil dan kredibel," ujar Ova saat melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan UM UGM, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, peningkatan jumlah peserta tahun ini juga menjadi perhatian tersendiri bagi universitas. Berbagai evaluasi dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya digunakan sebagai dasar menyempurnakan sistem dan layanan pendukung ujian.
"Setiap tahun kami belajar dari pelaksanaan sebelumnya, jadi berbagai potensi kendala bisa diantisipasi lebih awal dan kualitas penyelenggaraan terus meningkat," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof dr Gandes Retno Rahayu menjelaskan, pada UM UGM CBT 2026 mencakup 93 program studi sarjana dan sarjana terapan. Meski jumlah peserta meningkat, kuota penerimaan mahasiswa baru tetap mengikuti daya tampung yang telah ditetapkan oleh universitas.
Dari total peserta yang mengikuti seleksi, 3.729 orang akan diterima melalui jalur mandiri. Kondisi tersebut membuat tingkat persaingan pada sejumlah program studi menjadi sangat tinggi.
"Ini kan ada 93 prodi, jadi 44.972 itu nanti yang akan diterima 3.729 orang. Di prodi tertentu, daya saingnya bahkan lebih dari 1 banding 13," ungkapnya.
Gandes menyebut program studi Kedokteran, Manajemen, dan Hukum masih menjadi pilihan utama peserta pada seleksi tahun ini. Selain itu, beberapa program studi seperti Kedokteran Gigi dan Hukum juga mengalami peningkatan jumlah peminat dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara dari sisi materi ujian, tidak terdapat perubahan dibandingkan pelaksanaan tahun lalu.
“Mata ujinya tetap sama seperti tahun lalu, meskipun soal yang digunakan tentu berbeda pada setiap pelaksanaan seleksi,” jelasnya.
Di sisi lain, UGM juga menyiapkan layanan khusus bagi peserta penyandang disabilitas untuk memastikan proses seleksi berjalan inklusif. Kepala Unit Layanan Disabilitas UGM, Wuri Handayani mengatakan, peserta disabilitas netra ditempatkan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) agar memperoleh pendampingan yang lebih optimal selama ujian berlangsung.
UGM menyediakan komputer yang telah dilengkapi aplikasi pembaca layar (screen reader) untuk membantu peserta mengakses soal berbasis teks. Adapun untuk soal yang memuat gambar atau ilustrasi visual, peserta didampingi petugas yang membantu menjelaskan informasi yang tidak dapat dibaca aplikasi.
“Karena masih ada beberapa soal berbentuk gambar, setiap peserta netra didampingi satu orang pendamping yang membantu menarasikan informasi visual yang tidak dapat dibaca oleh screen reader,” terangnya.
Selain peserta netra, peserta dengan disabilitas fisik, tuli, maupun disabilitas mental juga ditempatkan pada lokasi ujian yang telah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Persiapan layanan dilakukan sejak jauh hari, termasuk penyiapan perangkat pendukung dan ruang ujian yang aksesibel.
“Prinsipnya, kami ingin memastikan setiap peserta memiliki kesempatan yang setara untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam mengikuti seleksi,” tambahnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita