GUNUNGKIDUL - Kelas khusus olahraga di SMPN 1 Saptosari terus menjadi lumbung prestasi cabang olahraga tingkat kabupaten hingga provinsi sejak dibuka pada 2019. Meski fokus pada pembinaan atlet pelajar, sekolah tetap menggenjot capaian akademik siswa agar mampu berprestasi di dalam maupun luar kelas.
Kepala SMPN 1 Saptosari Emy Indarti mengatakan, awal mula pembentukan kelas olahraga dilatarbelakangi banyaknya siswa yang berprestasi di cabang voli dan sepak takraw. Kondisi itu kemudian diperkuat dengan adanya program usulan kelas khusus olahraga dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul.
“Awalnya anak-anak banyak mendapatkan prestasi voli dan sepak takraw. Hampir setiap tahun mendapat kejuaraan tingkat kabupaten maupun provinsi,” ujar Kepala SMPN 1 Saptosari Emy Indarti, Jumat (29/5/2026).
Dia menjelaskan, secara akademik siswa kelas khusus olahraga tetap mengikuti pembelajaran yang sama seperti siswa reguler lainnya. Perbedaannya, sekolah memberikan tambahan pembinaan sesuai cabang olahraga masing-masing siswa. Saat ini cabang olahraga yang dikembangkan semakin beragam.
Tidak hanya voli dan sepak takraw seperti awal-awal kelas khusus ini diterapkan, tetapi juga sepak bola, futsal, karate, pencak silat, tenis meja, catur, atletik, hingga gateball.
“Jumlah siswa kelas khusus olahraga ada 32 anak. Setiap cabang olahraga memiliki kuota sendiri sesuai kemampuan saat proses pendaftaran,” ujarnya.
Baca Juga: Jaring Talenta Paduan Suara Tampil di Istana Merdeka, Disbud DIY Buka Audisi Gita Bahana Nusantara
Sekolah juga menyiapkan guru ekstrakurikuler untuk mendampingi pembinaan siswa. Namun, keterbatasan anggaran membuat pembinaan intensif baru bisa difokuskan pada cabang olahraga beregu.
Kemudian, untuk jenis olahraga perseorangan siswa diwajibkan mengikuti latihan di luar jam pelajaran. Dengan catatan, aktivitas tersebut terus dimotoring oleh pihak sekolah.
“Karena dana BOS sekarang ada pengurangan untuk kebutuhan buku 10 persen, maka sekolah lebih memfasilitasi cabang beregu. Untuk cabang lain biasanya siswa mengikuti klub atau latihan di luar sekolah,” jelasnya.
Prestasi siswa kelas olahraga pun terus bertambah dari tahun ke tahun. Cabang voli berhasil meraih juara satu tingkat kabupaten pada 2023 dan 2024, serta juara dua pada 2025. Sementara di tingkat provinsi, tim voli SMPN 1 Saptosari meraih juara dua pada 2024.
Adapun cabang sepak takraw mencatat dominasi lebih kuat dengan meraih juara satu tingkat kabupaten selama tiga tahun berturut-turut sejak 2023 hingga 2025. Di tingkat provinsi, cabang tersebut juga berhasil menjadi juara satu pada 2023 dan 2024.
“Untuk cabang nonberegu juga sering mendapatkan medali emas di tingkat provinsi,” ungkap Emy.
Mulai tahun ini sekolah menambah program latihan fisik khusus bagi siswa kelas olahraga. Kegiatan dilakukan dua kali dalam sepekan setelah jam pelajaran reguler berakhir. Setelah pukul 12.00, terdapat tambahan latihan fisik selama dua jam pelajaran.
Hak tersebut, ia lakukan sebab sejauh ini sekolah mengakui masih menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara prestasi olahraga dan akademik siswa.
Menurutnya, sebagian besar siswa kelas olahraga lebih terbiasa beraktivitas di lapangan sehingga terkadang kurang nyaman saat harus belajar lama di dalam kelas. “Anak-anak ini rata-rata aktif dan berprestasi di bidang olahraga. Jadi ketika di dalam kelas kadang ingin terus bergerak dan beraktivitas di luar,” ujarnya.
Karena itu, pihak sekolah terus memberikan edukasi agar siswa mampu menyeimbangkan prestasi olahraga dengan kemampuan akademik.
“Kami terus mengingatkan bahwa prestasi olahraga penting, tetapi pelajaran juga harus tetap bagus. Jadi harus bisa berprestasi di dalam maupun di luar kelas,” tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita