Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rela Tinggalkan Keluarga demi Program Prioritas Presiden, Jalan Pengabdian Guru Sekolah Rakyat Kebumen

Muhammad Hafied • Minggu, 10 Mei 2026 | 09:10 WIB
Aida Nurul Safitri, tenaga pengajar asal Situbondo, Jawa Timur yang ditugaskan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 44 Kebumen. (M Hafied/Radar Jogja)
Aida Nurul Safitri, tenaga pengajar asal Situbondo, Jawa Timur yang ditugaskan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 44 Kebumen. (M Hafied/Radar Jogja)

KEBUMEN - Tangis Aida Nurul Safitri, 31, seketika pecah saat menceritakan pengorbanannya mengajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 44 Kebumen. Guru asal Situbondo, Jawa Timur itu harus rela berpisah dengan suami dan dua anaknya, termasuk bayi keduanya yang baru berusia satu bulan demi mengabdi sebagai guru di sekolah rakyat program prioritas pemerintah.

Ya, Aida adalah cermin dari sekian banyak guru perantau yang ditugaskan pemerintah untuk bersedia mengajar di SRT. Semua itu rela dilakukan meski harus jauh dari keluarga. Bagi orang lain mungkin melihat Aida biasa saja.

Layaknya seperti perempuan pada umumnya. Tetapi di balik itu ia hanya berusaha terlihat kuat karena setiap haru harus menanggung rasa rindu kepada anak dan suami. 

Baca Juga: Tiga WNI Terindikasi  Jemaah Haji Ilegal, Bisa Digagalkan Petugas di Bandara YIA

"Pas kangen, ya cuma pakai video call. Terakhir pulang waktu libur Lebaran, sekarang belum pulang lagi," ungkapnya sambil mengusap air mata, Jumat (8/5/2026).

Tahun lalu, Aida memutuskan diri untuk ikut seleksi penerimaan guru sekolah rakyat. Hasil kerja keras dan keuletan kemudian berpihak kepada dirinya. Ia dinyatakan lolos seleksi sebagai pengajar di SRT.

Perasaan bangga dan dilema kemudian muncul. Hatinya pun berkecamuk karena diminta harus pergi mengajar di luar tanah kelahirannya, Situbondo. "Ikut bangga, karena bisa gabung sekolah rakyat. Progam ini kan masuk program prioritas presiden," ujarnya.

Baca Juga: Pemkab Sleman Mulai Terapkan WFH, Ada Sepuluh OPD yang Dikecualikan

Penempatan tugas jauh dari keluarga memang tak pernah terlintas dalam benaknya.

Apalagi keputusan meninggalkan keluarga bukan perkara mudah. Ia juga dihadapkan persoalan kondisi anaknya yang masih kecil dan sedang butuh perhatian serta kasih sayang seorang ibu. Namun berkat keteguhan hati dan keikhlasan keluarga, dilema itu perlahan sirna.

Ia pun memberanikan diri untuk tetap berangkat dari Situbondo ke Kebumen. Meski terasa berat, Aida tak begitu saja menyerah.

Bagi guru IPA ini, sebuah pengorbanan akan jauh lebih berarti jika memberi manfaat bagi banyak orang. Motivasi inilah yang membuatnya tetap bertahan. "Anak saya titip ke Mbah. Toh saya datang ke sini nantinya juga buat keluarga," ungkap Aida seraya membesarkan hati.

Baca Juga: Lima Proyek Strategis Pemkot Jogja Mulai Dilelang, Seluruhnya Infrastruktur dengan Nilai Anggaran Rp 10,85 Miliar

Bagi Aida, bergabung di SRT 44 Kebumen bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi semua dilakukan demi jalan pengabdian di dunia pendidikan. Lebih dari itu, mendapat kesempatan mengajar di SRT juga tak hanya pekerjaan, melainkan panggilan hati.

Betapa tidak, hampir setiap hari ia bercengkrama dengan anak-anak yang notabene kurang beruntung dari sisi ekonomi. 

Tak sedikit juga para siswa berangkat dari latar belakang dengan kondisi keluarga berantakan. Faktor itulah yang membuat dirinya mantap menerima tugas jauh dari kampung halaman.

"Saya juga belajar, bagaimana merawat anak dengan banyak permasalahan berbeda. Mereka itu butuh perhatian dan pemerintah memikirkan," ucap guru lulusan Univesitas Jember itu.

Baca Juga: Dinkes DIY Klaim Tahun Ini Belum Ada Kasus Positif Hentavirus, Enam Pasien pada 2025 Sudah Sembuh Total

Sebagai seorang ibu, bagi Aida rasa rindu kepada keluarga tetap tak akan pernah hilang.

Terlebih ia kini adalah seroang istri sekaligus ibu dari dua orang anak. Sudah delapan bulan terakhir Aida mengabdi di SRT 44 Kebumen. Suka dan duka telah dilewati bersama. 

Suasana di Kebumen akhirnya perlahan menjadi rumah kedua bagi dirinya. Rekan sesama guru juga saling menguatkan, terutama bagi mereka yang datang dari luar daerah.

"Ada 10 guru lain bukan asli Kebumen. Ada dari Lumajang, Tegal, Demak, Bantul sampai Madura. Senang bisa tukar pengalaman," katanya. (fid/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Sekolah Rakyat Terintegrasi #kebumen #mengabdi #Guru #situbondo