SLEMAN – Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman memastikan seluruh siswa lulusan SD dan TK tetap tertampung pada pelaksanaan sistem penerimaan murid baru (SPMB) 2026.
Namun, kondisi daya tampung yang jauh lebih besar dibanding jumlah lulusan membuat SMP dan SD di Sleman kembali menghadapi kecenderungan kekurangan siswa, terutama di sekolah swasta dan sebagian sekolah negeri.
Rangkaian sistem penerimaan murid baru (SPMB) 2026 sudah dimulai. Calon pendaftar pada jalur afirmasi sudah bisa melakukan asesmen penyandang disabilitas pada Mei ini.
Baca Juga: PSIM Jogja Sudah Aman dari Degradasi, Van Gastel Tetap Genjot Intensitas dan Filosofi Bermain Timnya
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman memastikan seluruh siswa bisa tertampung di jenjang sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP).
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Ponidi mengatakan, rangkaian SPMB tahun ini sudah dimulai. Para lulusan di jenjang SD bisa mendaftar SMP lewat empat jalur. Mulai dari domisili, afirmasi, mutasi, dan prestasi.
Calon pendaftar pada jalur afirmasi sudah bisa melakukan asesmen penyandang disabilitas pada Mei ini.
Namun demikian, jumlah lulusan dengan daya tampung siswa tak sebanding atau jauh lebih besar. Berdasarkan data dinas pendidikan ada 15.976 siswa yang saat ini duduk di SD maupun madrasah ibtidaiyah (MI).
Sementara daya tampungnya mencapai 18.816. Terdiri dari SMP negeri ada 7.968 kursi, SMP swasta 6.144 kursi, lalu MTS negeri ada 1.600 kursi, dan MTS swasta 3.104 kursi.
"Daya tampungnya untuk masuk seluruh warga Sleman Insya Allah sisa 2.840 kursi," katanya dalam jumpa pers Pemkab Sleman dengan tema transformasi layanan publik, Kamis (7/5/2026).
Melihat kondisi ini, Ponidi tak menampik bahwa pada SPMB tahun ini menunjukkan kecenderungan kekurangan siswa. Dia sebut biasanya untuk sekolah-sekolah swasta rombongan belajarnya tidak penuh.
Satu kelas belum tentu berisi 32 siswa. Sementara untuk SMP dan MTS negeri dia sebut peminatnya masih tinggi. Namun, tetap dipastikan bahwa tidak akan ada kasus siswa tidak dapat sekolah di Sleman.
"Jadi harus ada SPMB untuk mengatur biar tidak saling tabrakan karena sampai hari ini yang negeri masih diminati," ujarnya.
Hal senada diungkapkan oleh Kepala Seksi Kelembagaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Sartini.
Baca Juga: PSS Sleman Fokus Asah Set Piece untuk Bungkam Garudayaksa FC di Final Pegadaian Championship
Dia memastikan lulusan taman kanak-kanak maupun raudatul athfal bisa tertampung lewat tiga jalur, yakni afirmasi, mutasi, dan domisili. Kecenderungan kekurangan siswa dia sebut juga terjadi di SD. Apalagi jika meninjau SPMB 2025 lalu hanya 27 persen SD negeri yang kuotanya penuh.
"Penurunan ini terjadi sekitar lima tahun terakhir. Memang lebih banyak daya tampungnya daripada lulusannya," bebernya.
Dia juga menilai, orang tua saat ini memiliki kecenderungan untuk memilih sekolah berbasis agama daripada sekolah negeri. Untuk itu pihaknya fokus meningkatkan prestasi sekolah negeri agar bisa meningkatkan minat pandaftar. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita