JOGJA - Di Kota Jogja, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) setempat mencatat kuota SD negeri pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2025 baru menyentuh 75 persen. Kepala Disdikpora Kota Jogja Budi Santosa Asrori mengatakan, belum terpenuhinya kuota SD negeri disebabkan oleh berbagai faktor.
Namun kecenderungan paling utama adalah minat orang tua siswa yang memprioritaskan pendaftaran peserta didik ke sekolah swasta. Alasannya untuk mendapatkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang dimaksud adalah keagamaan.
Baca Juga: Forda II DIY 2026 Siap Digelar, Pendaftaran By Number 18-22 Mei
Menurut Budi, para orang tua banyak yang berharap anak-anak mereka mendapatkan bekal keagamaan yang tuntas di sekolah. Misalnya bagi siswa muslim seperti kemampuan mengaji dan hafalan Alquran tanpa tambahan pengajaran di luar jam sekolah. Fenomena ini juga berlaku bagi orang tua siswa nonmuslim.
Berdasarkan hasil survei internal, Budi mengungkap juga ada pergeseran tren orang tua dalam memilih sekolah. Jika kondisi ekonomi dan strata pendidikan tinggi, maka orang tua dipastikan memilih sekolah swasta.
"Semakin tinggi pendapatan dan semakin tinggi pendidikan orang tua, kecenderungannya memilih SD swasta. Karena orang tua menganggap SD adalah masa-masa penanaman nilai karakter," ujar Budi kepada Radar Jogja, Jumat (1/5/2026).
Sementara untuk karakter sekolah yang kurang diminati, meski enggan merinci daftar sekolah, Budi menyebut mayoritas berada di kawasan pinggiran dan kumuh. Misalnya di perbatasan wilayah atau bantaran sungai. "Biasanya di daerah pinggiran atau marginal yang tidak banyak siswanya,” bebernya.
Mantan sekretaris Dindikpora Kota Jogja itu mengaku sudah menyiapkan program bagi sekolah-sekolah negeri supaya dapat kompetitif. Misalnya dengan kerja sama sekolah dengan lembaga keagamaan seperti Baznas dan Kementerian Agama untuk melakukan bimbingan keagamaan.
Budi menegaskan, secara kualitas fisik dan fasilitas SD Negeri di Kota Jogja sudah sangat baik. Sehingga Disdikpora fokus pada pengembangan kurikulum pendidikan nilai-nilai karakter untuk menarik minat orang tua siswa mendaftar ke sekolah negeri.
"Sebetulnya sekolah negeri juga sudah cukup bagus, kualitas dan fisiknya bagus. Memang dalam hal terkait pendidikan karakter, orang tua ingin pendidikan agama yang bagus, sehingga memilih sekolah swasta,” bebernya.
Gratiskan Seragam 10 Pendaftar Pertama
SD Negeri Kintelan 2 Jogja yang berada di Kelurahan Keparakan, Mergangsan, Kota Jogja merupakan salah satu contoh nyata lembaga pendidikan negeri yang minim siswa. Bahkan mengalami penurunan dalam PPDB.
Kepala SD Negeri Kintelan 2 Jogja Kuswanto mengatakan, penurunan jumlah siswa yang masuk dalam setiap PPDB terjadi selama tiga tahun terakhir. Pada 2023 sekolah yang dipimpinnya menerima 6 siswa, kemudian 2024 naik menjadi 7 siswa, lalu pada 2025 menurun kembali dengan hanya 4 siswa.
Total siswa di sekolah ini dari jenjang kelas satu sampai enam diketahui hanya 46 siswa. Terbanyak di kelas enam dengan jumlah 13 siswa.
Kuswanto yang baru menjabat di sekolah ini 27 Maret 2026 lalu mengungkap faktor penyebab sekolahnya kurang diminati. SD Negeri Kintelan 2 Jogja dekat dengan sekolah lain yang dipandang memiliki kualitas lebih bagus. Kemudian sekolah saingan itu juga menerapkan sistem pendaftaran real time online (RTO).
"Hal ini sangat berpengaruh karena siswa yang tidak diterima di SD yang RTO, mereka otomatis terlempar ke SD pilihan kedua yang sama sama RTO,” ujar Kuswanto kepada Radar Jogja, Jumat (1/5).
Baca Juga: Jumlah Pegawai WFH di Pemkot Jogja Terus Menurun, BKPSDM: Optimalisasi Pelayanan Publik
Dalam kepemimpinannya, Kuswanto berkomitmen membawa semangat baru demi meningkatkan kualitas sekolah. Berbagai inovasi juga sudah disiapkan agar SD Kintelan 2 Jogja lebih diminati orang tua.
Misalnya lewat program penguatan karakter terhadap semua murid. Bentuknya dengan solat dhuha bersama setiap Jumat pagi di minggu keempat. Bagi siswa yang beragama lain juga melaksanakan ibadah dengan bimbingan guru agamanya masing-masing.
Kemudian sekolah juga menambah dan menggiatkan program ekstrakurikuler. Sehingga kegiatan bagi siswa di luar ruang kelas lebih beragam, karena bisa nemilih ekstrakulikuler karate, futsal, drumband atau membatik.
Sekolah juga menggratiskan seragam 10 siswa pendaftar pertama. Serta melakukan sosialisasi tentang keberadaan sekolah dengan menyasar TK dan tokoh masyarakat. Kemudian juga memasang spanduk pendaftaran pada tempat-tempat strategis.
Kuswanto juga terus meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik untuk meningkatkan pamor SD Negeri Kintelan 2 Jogja. Untuk prestasi akademik misalnya dengan memberi tambahan pelajaran bagi siswa kelas enam.
Kemudian sekolah juga membuat kesepakatan dengan orang tua untuk membimbing siswa secara intensif dua hari sebelum pelaksanaan tes kemampuan akademik. Siswa dilakukan pengawasan secara ketat dari pukul 16.00 sampai 18.00 dalam membagi waktu untuk belajar, ibadah dan menghindari bermain HP. "Pada latihan TKA terakhir sudah ada yang mendapat nilai 90 untuk literasi membaca dan sains," jelas Kuswanto. (inu/laz)