JOGJA - Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk menjadi Center of Excellence di bidang penerbangan tingkat ASEAN pada tahun 2030.
Hal tersebut disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-31 STTKD yang menjadi puncak rangkaian peringatan selama dua bulan terakhir.
Ketua STTKD Dr. Erwhin Irmawan menekankan soal pentingnya sinergi seluruh elemen kampus untuk mempercepat pencapaian visi tersebut.
Ia menjelaskan, visi tersebut diarahkan untuk menjadikan STTKD sebagai pusat unggulan atau Center of Excellence di bidang aviation yang mampu bersaing di tingkat ASEAN.
Baca Juga: Presiden FIFA Gianni Infantino Tegaskan Iran Akan tetap Berpartisipasi di Piala Dunia 2026
"Unggul di sini baik dari sisi pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, maupun kualitas lulusan," katanya, Rabu (29/4).
Di sisi lain, Erwhin juga menyoroti dampak kondisi geopolitik global terhadap industri penerbangan, terutama terkait kenaikan harga bahan bakar yang berimbas pada tarif penumpang.
Menurutnya, dinamika global tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi institusi pendidikan kedirgantaraan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif.
"Dalam hal ini tidak hanya secara teknis tetapi juga dalam kemampuan menghadapi perubahan," paparnya.
Dalam konteks perkembangan teknologi, STTKD juga mulai mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) dalam proses pembelajaran.
"Namun, penggunaannya tetap diarahkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan mahasiswa," ujarnya.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta Prof. Setyabudi Indartono, menilai STTKD memiliki potensi besar untuk melakukan lompatan signifikan, khususnya dalam peningkatan akreditasi program studi.
Ia menyebut saat ini STTKD memiliki sembilan program studi, dengan satu di antaranya telah meraih akreditasi Unggul dan dua lainnya berstatus Baik Sekali yang dinilai berpeluang naik peringkat.
Selain itu, Setyabudi menekankan pentingnya transformasi pendidikan di tengah perkembangan teknologi penerbangan yang semakin kompleks.
Baca Juga: Prabowo Rayakan May Day di Monas, Ikut Berjoget di Hadapan Ribuan Buruh
"Ini penting untuk dipahami, termasuk integrasi literasi data, AI, serta teknologi ramah lingkungan dalam kurikulum," sebutnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan industri serta modernisasi fasilitas untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan kerja.
Rangkaian Dies Natalis ke-31 STTKD sendiri telah berlangsung sejak Maret hingga April 2026, dengan berbagai kegiatan akademik dan non-akademik sebelum mencapai puncak acara pada Rabu (29/4).
Di akhir, Erwhin juga menegaskan bahwa salah satu arah pengembangan STTKD ke depan adalah tetap mengintegrasikan AI dalam konteks yang sesuai.
"AI itu kita tempatkan sebagai tools, bukan untuk menggantikan mereka, tetapi untuk membantu agar output-nya menjadi lebih baik," ujar Erwhin. (iza)
Editor : Bahana.