KEBUMEN - Di tengah keterbatasan akses pendidikan formal, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Handayani hadir sebagai ruang harapan.
Sembilan tahun sudah lembaga pendidikan ini konsisten membuka jalan. Terutama bagi mereka yang terkendala terhadap akses pendidikan.
Jerih payah PKBM Handayani mungkin lirih terdengar, tetapi kebermanfaatan di dunia pendidikan nyata dirasakan masyarakat. Selama hampir satu dekade, PKBM Handayani fokus melayani masyarakat.
Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Non-subsidi Ancam Operasional Bus Sekolah Gratis di Gunungkidul
PKBM yang berpusat di Gombong, Kebumen ini telah sukses mencetak banyak lulusan dari program kesetaraan.
"Kenapa PKBM ini hadir, kami melihat masih banyak masyarakat terpinggirkan dari dunia pendidikan," ungkap PKBM Handayani, Muri Kunjono kepada Radar Jogja, Jumat (24/4/2026).
Per hari ini PKBM Handayani tercatat memiliki total 248 siswa aktif. Terdiri dari 115 siswa yang menempuh pendidikan Paket A atau setara SD.
Lalu, 48 siswa Paket B atau setara SMP dan 85 Paket C atau setara SMA. Angka ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan alternatif yang fleksibel dan inklusif.
Diungkapkan, mereka para siswa yang ikut belajar berangkat dari berbagai latar belakang, mulai dari santri, pekerja hingga masyarakat umum.
Jika diklasifikasi mereka merupakan anak kategori putus sekolah, anak yang tidak mau sekolah dan anak tidak sekolah. Namum di PKBM Handayani mereka menemukan kesempatan kedua.
"Banyak cerita, ada yang korban broken home. Ada yang kena kasus kriminal. Ada yang hamil, keluar dari sekolah pindah ke sini," terang Muri.
Dia mengungkapkan, kegiatan belajar mengajar selama ini dirancang sesuai kebutuhan.
Baca Juga: TPR Parangtritis Dipindah Paling Lambat Awal Juli, Akan Diganti Diganti dengan 10 Pintu Masuk Baru
Artinya disesuaikan dengan kondisi siswa. Banyak di antara mereka berangkat dari kalangan santri.
Setidaknya hari ini PKBM Handayani telah bekerja sama dengan tiga pesantren di wilayah Kecamatan Gombong dan Kecamatan Sempor untuk menyelenggarakan kesetaraan pendidikan.
"Khusus santri jumlahnya ada 135 orang. Tahun ajaran baru kemungkinan ada tambahan 25 siswa," bebernya.
Muri mengungkapkan, selain mentransfer ilmu PKBM Handayani juga menanamkan nilai-nilai kemandirian.
Berbagai program keterampilan turut diberikan, mulai dari pelatihan kewirausahaan hingga pengembangan potensi diri.
Tujuannya jelas, diharapkan lulusan PKBM nantinya tidak hanya memperoleh ijazah, tetapi juga bekal hidup.
Dia juga berharap alumni PKBM Handayani mampu memiliki jawaban atas persoalan tantangan zaman.
"Kami punya 12 tenaga pendidik. Semua itu basic guru, jadi paham bagaimana memperlakukan mereka," ujarnya.
Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Tawarkan Investasi Garmen Rp 51,6 Miliar di Semin, Bidik Pasar Ekspor
Hingga saat ini, Muri bersama rekan guru atau tutor lain terus berkomitmen untuk membuktikan PKBM bukan sekadar pilihan alternatif, tetapi juga memiliki makna sama dengan lembaga pendidikan lain.
Melalui semangat gotong-royong ini dia menaruh harapan PKBM Handayani tetap menjadi jembatan bagi mereka yang ingin menata masa depan.
"Kami berawal dari kelompok bermain. Rintian dulu, baru menyelenggarakan pendidikan kesetaraan pada 2017. Sampai sekarang tetap eksis," imbuhnya. (fid/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita