Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Trauma Anak Korban Daycare Bisa Bertahan Lama, Ini Kata Pakar UNY

Fahmi Fahriza • Sabtu, 25 April 2026 | 21:16 WIB
 Foto dosen Departemen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Arumi Savitri Fatimaningrum. Dokumen pribadi narasumber 
 Foto dosen Departemen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Arumi Savitri Fatimaningrum. Dokumen pribadi narasumber 

JOGJA - Dugaan kasus kekerasan dan penelantaran anak di sebuah daycare kawasan Umbulharjo, Kota Jogja, yang kini tengah diselidiki kepolisian, memunculkan perhatian serius dari kalangan akademisi terkait dampak psikologis jangka panjang pada anak usia dini.

Pakar menilai, pengalaman traumatis di masa golden age berpotensi meninggalkan jejak emosional yang tidak selalu terlihat, namun dapat memengaruhi perkembangan perilaku dan kesehatan mental anak di kemudian hari.

Dosen Departemen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Arumi Savitri Fatimaningrum menilai, masa awal kehidupan atau yang kerap disebut sebagai golden age merupakan periode penting dalam pembentukan dasar kepercayaan anak terhadap lingkungan sekitarnya.

Baca Juga: Kejar Tiket Promosi Otomatis. PSS Sleman Incar Tiga Poin di Markas Persiba Balikpapan

Pada fase ini, anak sangat bergantung pada orang dewasa, baik orang tua maupun pengasuh, dalam memenuhi kebutuhan dasar sekaligus membangun rasa aman.

"Anak mungkin tidak ingat peristiwanya, tapi emosi yang dia rasakan itu bisa tersimpan dan muncul di kemudian hari. Ini yang berpotensi menjadi dampak jangka panjang," ujarnya kepada Radar Jogja, Sabtu (25/4/2026).

Dia menjelaskan, ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, atau bahkan digantikan dengan pengalaman negatif, hal ini berisiko mengganggu proses pembentukan rasa percaya yang menjadi fondasi utama dalam interaksi sosial anak di masa depan.

Dalam konteks ini, dampak yang muncul tidak selalu bersifat langsung dan kasat mata. Banyak kasus menunjukkan bahwa gangguan psikologis pada anak justru baru terlihat setelah mereka memasuki fase perkembangan berikutnya.

Baca Juga: Dongkrak Produksi Susu, Ahmad Luthfi Inginkan Kontes Sapi Perah

Selain itu, ia menekankan pentingnya kepekaan orang tua dalam mengenali perubahan perilaku anak sebagai salah satu indikator awal adanya tekanan psikologis.

Perubahan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari perubahan emosi hingga gangguan fisik.

"Perubahan perilaku dan emosi yang drastis perlu diwaspadai. Misal anak sebelumnya ceria jadi pendiam, muncul agresivitas, atau mengalami gangguan tidur seperti mimpi buruk, itu bisa jadi indikator ada tekanan psikologis," jelasnya.

Dalam beberapa kasus, anak juga dapat menunjukkan respons berlebihan terhadap rangsangan tertentu atau menjadi lebih sensitif dibandingkan sebelumnya.

Baca Juga: AHY Dorong Konsep Green Corridor di Tol Prambanan–Purwomartani saat Tanam Pohon di Ruas, Ini Alasannya!

Kondisi ini kerap tidak disadari sebagai bagian dari respons terhadap pengalaman yang tidak menyenangkan.

Di sisi lain, Arumi mengingatkan tidak semua perubahan perilaku anak secara otomatis berkaitan dengan kekerasan.

Oleh karena itu, diperlukan observasi yang cermat serta komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak untuk memahami kondisi yang sebenarnya.

Terkait kesaksian anak usia dini, ia menilai pendekatan khusus sangat diperlukan karena kemampuan kognitif anak yang masih berkembang. 

Baca Juga: Little Aresha Daycare Ternyata Tak Kantongi Izin Beroperasi 

"Proses penggalian informasi tidak bisa dilakukan instan, dan butuh metode yang sesuai, seperti melalui aktivitas bermain atau pendekatan yang membuat anak merasa aman," pesannya.

Dalam hal penanganan, keluarga ditekankan memegang peran kunci dalam membantu proses pemulihan anak.

Lingkungan keluarga yang suportif dapat menjadi faktor pelindung yang mampu meminimalkan dampak psikologis yang ditimbulkan.

"Yang paling penting orang tua menjadi jangkar emosional bagi anak. Hadir secara emosional, memberi rasa aman, dan tidak memaksa anak untuk bercerita," tuturnya.

Baca Juga: Rayakan Semangat Kartini, Astra Motor Yogyakarta Roadshow bareng BeAT ke SMA Negeri 1 Prambanan

Ia juga menyarankan agar orang tua tidak langsung bereaksi secara berlebihan, melainkan tetap tenang dan fokus pada kondisi anak.

Pendekatan yang terlalu memaksa justru dapat memperburuk kondisi psikologis anak.

Jika diperlukan, orang tua menurutnya juga dapat melibatkan tenaga profesional seperti psikolog anak untuk membantu proses pemulihan, dengan tetap memperhatikan kesiapan anak dalam menjalani proses tersebut. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Little Aresha Jogja #Trauma Anak #Korban Daycare #Pakar UNY #golden age