JOGJA – Sebuah gerakan segar datang dari Yogyakarta di tengah meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi.
Festival Iklim "Bumi, Kita, dan Masa Depan" digelar selama dua hari, 24–25 April 2026, di Hall Phytagoras Taman Pintar Yogyakarta.
Yang membedakan festival ini dari aksi lingkungan pada umumnya adalah: anak-anak duduk sebagai aktor utama, bukan sekadar penonton.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Sheep Indonesia (YSI) bersama 12 sekolah dan satu pondok pesantren di wilayah Yogyakarta dan Sleman, serta berkolaborasi dengan jejaring WALHI Yogyakarta.
Baca Juga: Workshop UMKM Jadi Garda Depan Ketahanan Pangan dan Energi
Acara yang terbuka gratis untuk siswa, guru, orang tua, dan masyarakat umum ini lahir dari keprihatinan bersama: krisis iklim yang kian nyata, dengan dampak langsung pada anak-anak mulai dari gangguan pendidikan hingga risiko kesehatan dan psikososial.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kusno Wibowo, saat membuka festival pada Kamis (24/4/2026) menegaskan bahwa edukasi lingkungan tidak bisa lagi ditunda.
Menurutnya, anak-anak adalah generasi masa depan yang harus dibekali pemahaman tentang perubahan iklim sejak dini.
"Jika tidak dimulai dari sekarang, akan terlambat ketika mereka dewasa," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan SHEEP Indonesia, Yulia Rina Wijaya, menjelaskan bahwa festival ini merupakan bagian dari kampanye literasi iklim berbasis hak anak.
Ia mengkritik bahwa selama ini isu keadilan iklim lebih banyak didominasi diskusi orang dewasa, akademisi, dan LSM, sementara anak-anak justru memiliki hak untuk mengetahui posisi mereka dalam krisis ini.
"Melalui festival ini, anak-anak tidak hanya belajar, tetapi juga menyuarakan pengalaman dan harapan mereka," tegas Rina.
Rina menambahkan, festival ini merupakan pilot project di Yogyakarta yang melibatkan jenjang SD hingga SMA, termasuk integrasi literasi iklim dalam proses pembelajaran di sekolah.
Harapannya, model ini bisa direplikasi oleh sekolah-sekolah lain di berbagai daerah.
Dukungan hangat juga datang dari pihak sekolah mitra. Faiza, Waka Kesiswaan MA Masyithoh Gamping, mengungkapkan bahwa festival ini memberi ruang nyata bagi siswa untuk memamerkan hasil karya mereka.
"Anak-anak belajar memilah sampah, mengolahnya menjadi produk bernilai, bahkan ada yang bisa dijual," ungkapnya.
Selama dua hari, pengunjung dimanjakan dengan beragam kegiatan kreatif dan edukatif.
Baca Juga: PSS Sleman Hadapi Dua Laga Krusial untuk Promosi ke Super League, Ansyari: Sapu Bersih!
Ada talkshow tentang perubahan iklim, lomba seni, pertunjukan tari, teater, serta Expo Climate yang menampilkan riset siswa, cerita aksi, dan inovasi lingkungan.
Pengunjung juga bisa mengikuti workshop ecoprint, upcycle plastik dan kayu bekas, pembuatan es krim kelor, hingga sablon kaos.
Kegiatan interaktif seperti Jelajah Bumi, kuis edukatif, dan simulasi perhitungan jejak karbon turut memeriahkan suasana.
Salah satu momen paling istimewa adalah bedah buku "Anak Membaca Iklim" – sebuah karya kolaboratif siswa dan guru dari sekolah mitra.
Buku ini menjadi bukti nyata bahwa anak-anak mampu berkontribusi dalam literasi iklim.
Festival yang digelar bertepatan dengan momentum Hari Bumi ini diharapkan mampu memperkuat gerakan keadilan iklim berbasis komunitas di Yogyakarta.
Pada akhirnya, anak-anak tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama yang aktif menyuarakan kepedulian dan mengambil peran nyata dalam menjaga bumi demi masa depan yang berkelanjutan. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin