JOGJA – Yogyakarta kembali menjadi pusat pergerakan ekonomi berbasis sawit.
AKPY STIPER bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggelar Workshop and Conference UMKM Sawit Jogja 2026 pada Kamis (23/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung hangat ini dihadiri puluhan peserta dari kalangan mahasiswa, pelaku UMKM, akademisi, hingga mitra industri, yang dengan antusias mengikuti diskusi, pelatihan teknis, serta pameran produk turunan sawit.
Direktur AKPY STIPER, Dr. Sri Gunawan, SP, MP, dalam sambutannya menegaskan bahwa kelapa sawit bukan sekadar komoditas minyak nabati.
Ia menjelaskan bahwa sawit merupakan unggulan nasional yang manfaatnya sangat luas, mulai dari sumber energi terbarukan, bahan pangan, hingga berbagai produk turunan bernilai ekonomi tinggi.
Menurutnya, pemahaman menyeluruh tentang agribisnis sawit dari hulu ke hiliri adalah keharusan, terutama bagi mahasiswa penerima beasiswa BPDP.
Mereka, kata Dr. Sri Gunawan, harus melihat peluang kewirausahaan besar yang bisa dikembangkan untuk mendukung kemandirian pangan dan energi bangsa.
Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan pelaku UMKM sawit, sekaligus mendorong hilirisasi dan inovasi produk berbasis pangan dan energi.
Selain itu, workshop ini juga menjadi wahana memperkuat kelembagaan serta jejaring bisnis secara konvensional maupun digital.
Kolaborasi antara UMKM, koperasi, perguruan tinggi, pemerintah, perusahaan sawit, hingga lembaga riset pun terjalin erat, dengan harapan dapat membuka akses pasar, peluang permodalan, dan transfer teknologi di sektor sawit.
Tak ketinggalan, BPDP hadir dengan peran sentral. Kepala Divisi Kemasyarakatan dan UKMK BPDP, Helmi Muhansah, dalam sambungan zoom dari Jakarta, menekankan bahwa workshop ini merupakan implementasi program promosi BPDP untuk membangun narasi positif industri sawit.
Ia mengakui bahwa sawit kerap menjadi sasaran kampanye negatif (black campaign).
Baca Juga: PSS Sleman Hadapi Dua Laga Krusial untuk Promosi ke Super League, Ansyari: Sapu Bersih!
Karena itu, BPDP menjalankan pendekatan positive campaign yang tidak lagi bersifat top-down, tetapi melibatkan langsung pelaku UMKM sebagai aktor utama.
Helmi optimistis bahwa ketika UMKM merasakan sendiri manfaat ekonomi dari sawit—baik dari produk pangan, energi, maupun turunannya—secara alami mereka akan menjadi advokat sawit yang menyuarakan cerita positif kepada masyarakat luas.
Sepanjang acara, peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang padat dan bermanfaat.
Mulai dari sesi diskusi kebijakan hilirisasi sawit berbasis UMKM, pelatihan teknis pengolahan produk pangan dan energi seperti oleokimia serta oleofood, hingga pendampingan pemasaran digital.
Tidak lupa, expo dan sesi networking juga dimanfaatkan pelaku usaha untuk memamerkan produk sekaligus memperluas koneksi bisnis dengan perusahaan besar dan pemerintah.
Melalui kegiatan berbasis bukti nyata ini, AKPY STIPER berharap akan lahir UMKM sawit yang inovatif dan berdaya saing.
Mereka diharapkan mampu menjadi motor penggerak kemandirian pangan dan energi Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa Yogyakota tidak hanya dikenal sebagai kota budaya, tetapi juga pusat edukasi dan penguatan ekonomi sawit nasional. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin