KEBUMEN - Fenomena kekurangan murid hari ini mulai dirasakan di sekolah negeri di Kebumen. Bahkan, pada periode ini pemerintah daerah melalui dinas terkait bakal mengurus penggabungan atau regruping 12 sekolah dasar (SD) akibat minimnya jumlah murid.
Kabid SD pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdkpora) Kebumen Budi Santoso mengungkapkan, peleburan dua sekolah menjadi alternatif di tengah minimnya jumlah murid.
Kebijakan ini terpaksa dilakukan agar seluruh proses pembelajaran di sekolah lebih efektif dan efisien. "SD negeri muridnya berkurang jauh. Fenomena ini tidak hanya di Kebumen saja," ucapnya, Selasa (21/4).
Baca Juga: Persiapan 90 Persen, 1.423 Calon Jemaah Haji Magelang Siap Berangkat ke Embarkasi Solo dan Jogja
Tahun ini, kata Budi, disdikpora sudah mulai proses pengajuan regruping 12 sekolah dasar. Adapun 12 SD yang digabung masing-masing, SDN 1 dan 3 Karanggayam. Lalu, SDN 1 dan 2 Wadasmalang, SDN 1 dan 2 Pekutan, SDN 2 dan 3 Candirenggi. Kemudian, SDN 1 dan 2 Plarangan serta SDN 1 dan 2 Tanggeran.
Disebutkan, dari jumlah sekolah yang dilebur mayoritas memiliki tidak kurang dari 60 murid. Padahal idealnya satu sekolah dari kelas 1 sampai kelas 6 memiliki total 168 murid. "Selain jumlah murid. Ada satu SD sarananya tidak memadai sehingga digabung," kata Budi.
Fenomena kekurangan murid di sekolah negeri dapat terjadi dengan berbagai kemungkinan. Budi tak menampik banyaknya kemunculan sekolah swasta menjadi salah satu faktor atas kondisi tersebut.
Selain itu, kondisi lain dipicu demografi dengan penurunan angka kelahiran penduduk. Fakta ini turut berpengaruh terhadap berkurangnya murid usia sekolah dasar. "Penyebabnya apa, bisa jadi banyak yang kepengin sekolah di swasta. Minat ke SD rendah," ujar Budi.
Rektor Universitas Maarif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen Imam Satibi menjelaskan, berkurangnya jumlah murid di sekolah negeri tak lepas dari perubahan preferensi masyarakat. Menurutnya, per hari ini banyak orang tua murid lebih cenderung memilih lembaga pendidikan swasta karena menawarkan berbagai program unggulan.
Alasan lain fasilitas yang tersedia di sekolah swasta justru lebih komplet ketimbang sekolah negeri. "Masyarakat sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Mereka pilih sekolah berkualitas, walau tempatnya jauh dan biaya mahal," bebernya.
Baca Juga: Persiapan 90 Persen, 1.423 Calon Jemaah Haji Magelang Siap Berangkat ke Embarkasi Solo dan Jogja
Bagi Satibi, fakta bahwa sekolah negeri kekurangan murid menjadi sebuah anomali. Mestinya, kata dia, pemerintah mampu melakukan mitigasi agar sekolah negeri tetap pilihan favorit masyarakat. Artinya, sekolah di bawah naungan pemerintah mestinya harus siap berkompetisi dengan sekolah lain yang notabene swasta.
"Sekolah negeri pandangan saya masih standar. Sementara swasta banyak menciptakan inovasi kurikulum. Itu yang menjadi daya tarik," ungkapnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo