BANTUL - Advokasi pendidikan khusus diberikan dalam rangka pelayanan prima kepada anak berkebutuhan khusus (ABK).
Program yang diinisiasi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY itu juga bertujuan agar para guru dapat melayani dengan sepenuh hati.
“Dari sisi regulasi bisa melindungi guru-guru berkaitan dengan kesejahteraan,” ucap Anggota
Komisi D DPRD DIY Tustiyani di Balai Kalurahan Srimulyo, Piyungan, Bantul, Selasa (14/4/2026).
Baca Juga: DPUPKP Sleman akan Bangun Tiga Jembatan, Pastikan Konstruksi Kuat Selama 50 Tahun
Dalam kesempatan itu, Tustiyani juga menyoroti sejumlah orang tua yang menganggap memiliki anak berkebutuhan khusus sebagai sebuah aib.
Dengan adanya advokasi pendidikan khusus itu, Tusti, sapaan akrabnya, mendorong warga maupun tokoh
masyarakat bisa menerima dan menyekolahkan anak-anak yang mempunyai kebutuhan khusus.
Diingatkan, ABK juga anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka berhak untuk bersekolah.
"Kita tidak bisa memilih harus mempunyai anak seperti apa,” ingat Tusti. Karena itu, dia berharap para orang tua tidak lagi menyembunyikan anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut.
Baca Juga: DPW NasDem DIY Turut Bantah Isu Merger dengan Gerindra, Sebut Kondisi Internal Masih Solid
Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Tri Haryani menambahkan, ABK berhak memperoleh haknya mendapatkan pendidikan tanpa adanya diskriminasi.
Kegiatan advokasi pendidikan khusus itu diikuti perwakilan sekolah SLB, TK, dan kader-kader posyandu. Juga sejumlah wali murid SLB.
Dengan mengikuti acara tersebut, Tri berharap peserta bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat bila di wilayahnya ada ABK.
Baca Juga: Walhi Kritisi Penanganan Sampah di DIJ, TPA Piyungan dalam Proses Penataan Pasca-Lebaran
Sebelum acara juga ditampilkan video beberapa prestasi ABK di Kabupaten Bantul. Di antaranya peraih juara satu di tingkat nasional, seperti batik kriya, puisi, pantomim, dan lainnya.
Selain itu, ada penampilan siswa ABK menari dan memainkan angklung.
Ada pula pameran karya siswa ABK berupa batik, alat masak, dan beberapa karya lainnya.
"Ini satu contoh di balik keterbatasannya ada bakat yang terpendam. Ini membuat mereka percaya diri dan membawa nama baik DIY," terang Tri.
Menunjang pembelajaran siswa ABK, ada peningkatan sarana prasarana sekolah seperti revitalisasi dan rehabilitasi ringan.
Selain itu, terdapat sekolah inklusi. ABK bisa sekolah di sekolah reguler. Ada pula workshop untuk sekolah inklusi dengan identifikasi agar bisa melakukan asesmen pertama kali terhadap anak ABK.
Di luar itu ada pula beasiswa jaminan pendidikan khusus (jamdiksus) untuk sekolah negeri dan swasts. Selain itu, beasiswa untuk sekolah inklusi per semester.
Siswa ABK yang sekolah di SLB 1 Bantul dengan jarak rumah yang jauh, bisa tinggal di asrama SLB 1 Bantul.
Ada bantuan beasiswa asrama untuk keperluan pribadi siswa. ABK juga mendapatkan tambahan makanan dan susu.
"Jadi sebelum ada makan bergizi gratis (MBG) kami sudah memberikan tambahan makanan gizi gratis, meski tidak setiap hari,” terangnya.
Baca Juga: BMKG Yogyakarta Prediksi Kemarau Tahun Ini Lebih Kering, Ini Penyebabnya!
Program beasiswa juga diberikan kepada guru SLB untuk meningkatkan kemampuan mengajar.
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahrga DIY menjalin kerja sama dengan UNY. Itu dilakukan karena ada guru SLB yang bukan berlatar belakang pendidikan SLB.
“Kuliahnya dua semester di luar jam kerja melalui zoom, jadi tetap bisa bekerja," katanya. (cin/kus)
Editor : Winda Atika Ira Puspita