MUNGKID - Menyambut Paskah, puluhan siswa SD Kanisius Kenalan, Borobudur menggelar prosesi jalan salib, Senin (30/3). Tidak hanya menjadi ritual keagamaan, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi lingkungan dengan mengusung gunungan hasil bumi sepanjang perjalanan di kawasan perbukitan Menoreh.
Langkah kaki mungil para siswa memecah keheningan jalur Belik Kayen hingga Watu Putih di wilayah Kecamatan Borobudur. Dengan memikul salib kayu secara bergantian, mereka menempuh perjalanan sejauh kurang lebih empat kilometer menyusuri jalur berbatu dan menanjak.
Dalam prosesi tersebut, di barisan depan tampak sebuah gunungan besar berisi aneka sayur, buah, dan rempah hasil panen warga sekitar. Gunungan tersebut menjadi simbol utama dalam kegiatan bertajuk Jalan Salib Pemerdekaan.
Kepala SD Kanisius Kenalan, Borobudur Yosef Unisimus Maryono menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan iman, tetapi juga sebagai refleksi terhadap kondisi lingkungan. Menurutnya, isu ketahanan pangan menjadi perhatian penting, terutama bagi masyarakat pedesaan yang sangat bergantung pada hasil alam.
Dia menyebut, prosesi jalan salib ini sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran karakter bagi siswa. "Kami ingin anak-anak memahami bahwa bumi saat ini juga sedang 'memikul salib' akibat berbagai persoalan, terutama terkait pangan, air, dan tanah," ujarnya.
Sepanjang rute, kata dia, terdapat 14 pemberhentian yang menggambarkan kisah sengsara Yesus Kristus. Di setiap titik, siswa berhenti untuk berdoa dan merenung, sembari membawa harapan bagi keberlanjutan kehidupan manusia dan alam.
Maryono menegaskan, pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga membangun kesadaran dan keterampilan hidup, termasuk kepedulian terhadap lingkungan.
"Momentum Paskah kami gunakan untuk menanamkan kesadaran bahwa manusia harus menjaga sumber kehidupan di sekitarnya," katanya.
Gunungan hasil bumi yang diusung pun dimaknai sebagai simbol kasih Tuhan melalui kesuburan alam, sekaligus pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk merawatnya.
Dia berharap, siswa tidak hanya tumbuh sebagai pribadi yang religius, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan lingkungan dan ketahanan pangan.
Baca Juga: Antisipasi Potensi Lonjakan Kasus Campak, Pemprov Jateng Perkuat Imunisasi dan Edukasi
Siswa kelas V SD Kanisius Kenalan, Billy Agung Dwi Saputro mengaku menikmati pengalaman jalan salib meski harus menghadapi kesulitan selama perjalanan.
"Rutenya lumayan sulit, harus bergantian membawa salib dan gunungan. Tapi saya senang karena jadi tahu bahwa alam itu penting untuk masa depan," terangnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo