Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fenomena Quiet Overworking Mengintai Pekerja Indonesia: Bekerja Diam-Diam di Malam Hari, Akhirnya Burnout dan Ingin Resign

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 3 Maret 2026 | 14:24 WIB

Anggraeni Pranandari.
Anggraeni Pranandari.

JOGJA – Banyak pekerja kini terjebak rutinitas membalas email tengah malam, menyelesaikan tugas saat akhir pekan, hingga bekerja di sela waktu istirahat—tanpa instruksi atasan atau kompensasi tambahan.

Fenomena ini disebut quiet overworking, kebalikan dari quiet quitting, dan menjadi respons rasional di tengah ketatnya pasar kerja Indonesia.

Fenomena quiet overworking kian marak di kalangan pekerja Indonesia, terutama white-collar workers dan generasi muda.

Kebiasaan bekerja melebihi ekspektasi formal, secara diam-diam dan tanpa pengakuan resmi, kini menjadi bagian rutinitas sehari-hari.

Dosen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Anggraeni Pranandari, menjelaskan bahwa quiet overworking terjadi ketika karyawan memberikan waktu, tenaga, dan perhatian ekstra di luar tuntutan pekerjaan resmi.

“Bentuknya beragam, seperti tetap membalas email di luar jam kerja, mengerjakan tugas saat istirahat, atau selalu siap dihubungi terkait pekerjaan, tanpa tambahan kompensasi maupun pengakuan dari perusahaan,” ujar Dini, sapaan akrabnya, dalam keterangannya di FEB UGM, (3/3/2026).

Ia menegaskan, fenomena ini merupakan kebalikan dari quiet quitting, di mana karyawan hanya bekerja sesuai deskripsi tugas tanpa usaha tambahan.

Sebaliknya, quiet overworking justru menunjukkan dedikasi berlebih yang sering tidak disadari sebagai bentuk overworking.

Teknologi Jadi Pedang Bermata Dua

Dalam penelitiannya, Dini menemukan teknologi memainkan peran ganda.

Di satu sisi meningkatkan efisiensi, di sisi lain membuat batas antara kehidupan kerja dan pribadi semakin kabur.

“Ketika teknologi membuat kita selalu terhubung, tanpa sadar waktu pribadi terserap untuk urusan kantor,” tuturnya.

Dampak Jangka Panjang: Burnout hingga Turnover Tinggi

Meski terlihat produktif di awal, quiet overworking berisiko menimbulkan kelelahan kronis, burnout, hingga meningkatkan niat keluar (turnover intention).

Organisasi juga dirugikan karena karyawan kehilangan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kesempatan mengembangkan kompetensi.

“Organisasi inovatif dibangun oleh karyawan yang masih punya energi untuk berpikir, bukan yang paling lelah,” tegas Dini.

Penyebab Utama: Pasar Kerja Indonesia yang Tidak Aman

Fenomena ini tak lepas dari kondisi pasar tenaga kerja Tanah Air.

Berdasarkan Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia Februari 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka menurun dan jumlah penduduk bekerja meningkat.

Namun, sebagian besar pekerja masih di sektor informal dengan kualitas pekerjaan rentan, tanpa perlindungan kuat, kepastian jam kerja, atau jalur karir jelas.

Kondisi ini menciptakan job insecurity, terutama bagi generasi muda.

Dengan angkatan kerja terus bertambah sementara pekerjaan formal berkualitas terbatas, posisi tawar pekerja melemah.

Akibatnya, banyak yang menunjukkan dedikasi melalui kerja tambahan non-formal sebagai strategi menghadapi ketidakpastian.

Quiet overworking menjadi respons rasional dalam pasar kerja yang tidak memberi rasa aman,” papar Dini.

Budaya Kerja dan Sistem yang Mendorong

Selain faktor pasar, budaya kerja tidak tertulis seperti “selalu siap” atau “yang kerja lebih lama lebih komitmen” membuat fenomena ini tampak wajar.

Sistem penilaian kinerja yang fokus output tanpa hitung jam kerja, serta kontrak implisit, turut mendorong karyawan bekerja di luar batas tanpa kompensasi.

Quiet overworking muncul bukan karena ambisius semata, tapi karena sistem membuat diam menjadi pilihan paling rasional,” imbuhnya.

Solusi: Ubah Sistem, Perbaiki Tata Kelola SDM

Dini menekankan perlunya perbaikan tata kelola sumber daya manusia: redesign penilaian kinerja lebih eksplisit, tetapkan batas jam kerja jelas, dan kelola beban kerja realistis.

Quiet overworking bukan hanya karena karyawan mau bekerja berlebihan, tapi karena sistem membuat diam terlihat paling aman. Ubah sistemnya, maka perilaku akan mengikuti,” pungkasnya.

Fenomena ini menjadi pengingat bagi perusahaan dan pemerintah untuk menciptakan lingkungan kerja berkelanjutan, agar produktivitas tak mengorbankan kesehatan mental dan kesejahteraan pekerja. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#quiet overworking #white collar workers #terjebak rutinitas #Anggraeni Pranandari #Quiet quitting