Pada track GameFi, Tim OwnaFarm yang beranggotakan Yeheskiel Yunus Tame, Oktavianus Bima Jadiva, dan Nikolas Dwinata dari UKDW, bersama Harun Al Rasyid dari Universitas Amikom Purwokerto, berhasil meraih Juara 1 dan membawa pulang hadiah sebesar USD 8.000. Keempatnya merupakan alumni Bootcamp DevWeb3 Jogja dan aktif dalam komunitas DevWeb3 Jogja.
Pengumuman pemenang sekaligus penyerahan penghargaan dilakukan secara virtual melalui siaran langsung di platform X dalam rangkaian acara Hong Kong Consensus pada 10 Februari 2026.
Mantle Global Hackathon merupakan kompetisi pengembangan blockchain daring yang berlangsung selama lima bulan, sejak Oktober 2025 hingga awal 2026. Ajang yang diselenggarakan oleh jaringan blockchain Mantle ini diikuti oleh kreator, pengembang, dan inovator dari berbagai negara untuk membangun aplikasi terdesentralisasi (dApps). Puncak kegiatan digelar dalam Demo Day pada awal Februari 2026.
Dalam kompetisi tersebut, penyelenggara menekankan pentingnya produk yang relevan dan mampu menjawab persoalan nyata pengguna. Dewan juri menilai proyek berdasarkan lima aspek utama, yakni skalabilitas, desain produk, eksekusi teknis, integrasi dengan ekosistem Mantle, serta potensi pasar. Proyek unggulan tidak hanya menampilkan demo yang menarik, tetapi juga memiliki utilitas nyata, kesiapan teknis, dan peluang adopsi di dunia nyata.
OwnaFarm: GameFi untuk Pembiayaan Petani
Menjawab tantangan tersebut, Tim OwnaFarm menghadirkan solusi GameFi yang menyasar sektor pertanian. Mereka mengembangkan game berbasis blockchain yang mentokenisasi invoice financing atau surat tagihan petani.
Selama ini, banyak petani telah memiliki kontrak dengan pabrik atau distributor, tetapi menghadapi kendala modal operasional sebelum pembayaran diterima. Melalui OwnaFarm, invoice tersebut di tokenisasi dan dijadikan aset dalam permainan, sehingga membuka akses pembiayaan yang lebih cepat dan inklusif.
Yeheskiel Tame menjelaskan, “Kami mentokenisasi invoice petani dan menjadikannya sebagai aset dalam game. Investor dapat berpartisipasi seperti sedang bermain game, sehingga proses pendanaan menjadi lebih interaktif dan mudah diakses. Di sisi lain, gamer tidak hanya bermain, tetapi juga berperan sebagai investor yang terlibat dalam aktivitas ekonomi riil. Dampaknya, petani bisa memperoleh akses pendanaan yang lebih cepat dan inklusif untuk mendukung operasional mereka.”
Model ini memperluas pasar dengan menggabungkan gamifikasi dan pembiayaan riil. Inovasi tersebut dinilai mampu menjawab kebutuhan nyata sekaligus menunjukkan bahwa teknologi blockchain dapat dimanfaatkan untuk mendorong dampak sosial yang berkelanjutan.
Raih Juara 2 Lewat Proyek zkPull
Selain meraih Juara 1, Oktavianus Bima Jadiva juga menorehkan prestasi dengan meraih Juara 2 pada track ZK & Privacy melalui proyek bertajuk zkPull, dengan hadiah sebesar USD 5.000.
Oktavianus Bima menjelaskan bahwa zkPull merupakan protokol trustless untuk open-source bounty yang memungkinkan developer memperoleh reward secara otomatis setelah pull request mereka digabungkan, tanpa memerlukan persetujuan manual atau perantara terpusat. Dalam ekosistem open-source dan Web3, kontributor kerap menghadapi keterlambatan pembayaran, verifikasi manual, serta ketidakpastian penghargaan atas kontribusi mereka.
“zkPull menghilangkan asumsi kepercayaan tersebut dengan mengubah kontribusi GitHub menjadi klaim yang dapat diverifikasi secara kriptografis dan ditegakkan langsung di blockchain,” jelasnya.
Secara teknis, zkPull menggunakan zkTLS dari Reclaim Protocol untuk membuat bukti digital bahwa pull request benar-benar sudah digabungkan dan identitas kontributor valid, tanpa membuka data sensitif.
Bukti ini diverifikasi di blockchain melalui AVS. Setelah valid, smart contract otomatis mengirimkan reward. Hasilnya, proses bounty menjadi transparan, otomatis, dan tidak bergantung pada pihak tertentu (trustless).
Keberhasilan ganda ini menegaskan kapasitas mahasiswa UKDW dalam menghadirkan solusi blockchain yang tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan komunitas global. Prestasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi berbasis teknologi dapat menjadi sarana transformasi sosial dan penguatan ekosistem digital yang berkelanjutan.
Editor : Bahana.