MALUKU UTARA – Alunan musik tradisional Yanger menggema di pesisir Pelabuhan Desa Posi-Posi Rao.
Ribuan warga dan tamu undangan memadati acara puncak Festival Rao Rayo 2026 dengan tema "Celebrating Coastal Cultural Traditions".
Festival tahunan ketiga ini bukan sekadar pesta rakyat, tapi bukti nyata sinergi kuat antara mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM), pemerintah daerah, dan masyarakat lima desa di Kecamatan Pulau Rao.
Inisiatif ini lahir dari Tim KKN-PPM UGM Unit "Kita Morotai" Periode IV 2025 yang fokus pada pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya pesisir.
Sejak 2025, festival ini terus berkembang jadi agenda tahunan yang inklusif, melibatkan Desa Posi-Posi Rao, Saminyamau, Leo-Leo, Aru Burung, dan Lou Madoro.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Atrida Hadianti, S.T., M.Sc., Ph.D., membuka acara dengan pesan mendalam: "Festival Rao Rayo bukan hanya untuk tarik wisatawan.
Ini perekat persaudaraan kita dalam melestarikan budaya.
Inilah Indonesia sesungguhnya: beda-beda tapi tetap satu – Bhinneka Tunggal Ika."
Camat Pulau Rao menambahkan bahwa budaya adalah aset ekonomi berbasis kebanggaan lokal.
Sementara Sekda Kabupaten Pulau Morotai Muhammad Umar Ali mewakili Pemkab Morotai menyatakan apresiasi tinggi atas konsistensi KKN UGM:
"Ini model pemberdayaan masyarakat yang patut dicontoh wilayah lain di Indonesia."
Kemeriahan dimulai pukul 15.10 WIT dengan Pawai Budaya spektakuler.
Ratusan peserta dari lima desa berjalan penuh semangat sambil memamerkan busana adat dan tarian daerah menuju panggung utama di pelabuhan.
Suasana seperti pesta rakyat autentik!Rangkaian acara makin memukau:
Tari Tradisional penuh makna: Tari Petik Cengkih (syukur atas hasil bumi), Tari Toki Gaba (energik), hingga Tari Lesung/Dudutu (kehidupan agraris pesisir).
Kompetisi Musik Yanger jadi magnet utama! Kelompok 15–18 orang per desa bertarung sengit. Juri nilai aransemen, vokal, pelafalan bahasa daerah, dan penghayatan panggung.
Teater Budaya malam hari: Cerita kearifan lokal dan sejarah Pulau Rao yang bikin penonton terharu.
Pameran UMKM & Ekonomi Kreatif: Booth dari setiap desa pamerkan kuliner khas, kerajinan tangan, dan olahan laut – potensi besar wisata budaya pesisir!
Bukti bahwa pembangunan tidak hanya infrastruktur, tapi juga ketahanan sosial-budaya di wilayah perbatasan.
Penutupan haru dengan video profil surfing Pulau Rao dan dokumenter perjalanan mahasiswa KKN.
Doa bersama diakhiri harapan: Festival Rao Rayo terus lestari, inklusif, dan bawa nama Pulau Rao ke panggung nasional bahkan internasional!
Mahasiswa KKN UGM "Kita Morotai" meninggalkan legacy berharga: budaya pesisir bukan masa lalu, tapi masa depan ekonomi dan identitas bangsa. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin