RADAR JOGJA – Penjelasan ringkas tentang dinamika litosfer dan gerakan lempeng tektonik yang diunggah akun @bopo_jodhipati di platform X sejak kemarin sore langsung menjadi perbincangan hangat.
Utas tersebut telah ditonton ratusan ribu kali dan mendapat banyak apresiasi, terutama dari warga Yogyakarta serta pelajar yang sedang mempelajari materi Geografi kelas 10.
Pembentukan bentuk muka bumi dijelaskan terjadi akibat dua tenaga utama yang saling berlawanan.
Tenaga endogen berasal dari dalam bumi dan berupa gerakan lempeng tektonik, aktivitas gunung api, serta gempa bumi.
Sementara tenaga eksogen berasal dari luar bumi dan meliputi pelapukan, erosi, pengangkutan, serta pengendapan material.
Kedua tenaga ini terus bekerja sehingga menciptakan relief bumi yang kita lihat sekarang.
Fokus utama utas tersebut adalah gerakan lempeng secara horizontal yang terbagi menjadi tiga jenis.
Pertama adalah gerakan konvergensi atau tabrakan lempeng.
Di selatan Pulau Jawa terjadi subduksi di mana lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia.
Proses ini menyebabkan seringnya gempa bumi, munculnya gunung api seperti Merapi, serta terbentuknya palung laut dalam seperti Palung Jawa.
Meski rawan bencana, zona konvergensi ini juga memberikan berkah berupa tanah yang sangat subur karena material vulkanik kaya mineral, sehingga wilayah selatan Jawa termasuk Yogyakarta dikenal sebagai daerah pertanian yang produktif.
Jenis kedua adalah gerakan divergensi, yaitu saat lempeng saling menjauh.
Gerakan ini biasanya membentuk lembah besar di daratan atau punggungan tengah samudra di lautan.
Contohnya adalah proses pemisahan benua Amerika dari Eropa dan Afrika yang masih berlangsung hingga kini.
Jenis ketiga adalah gerakan transform atau gesekan horizontal.
Lempeng saling bergeser searah atau berlawanan arah tanpa saling menunjam atau menjauh.
Di Indonesia, salah satu contoh terkenal adalah Sesar Semangko di Sumatera yang aktivitasnya lebih tinggi dibandingkan Sesar San Andreas di Amerika Serikat.
Utas tersebut juga menyinggung proses terjadinya tsunami akibat subduksi.
Ketika lempeng yang tertahan tiba-tiba terlepas dan naik secara mendadak, ia mendorong kolom air laut.
Di laut dalam, gelombang tsunami bergerak sangat cepat meski amplitudonya kecil.
Begitu mencapai perairan dangkal di dekat pantai, energi tersebut berubah menjadi gelombang raksasa yang berbahaya.
Bagi masyarakat Yogyakarta yang berada di Pulau Jawa—salah satu zona tektonik paling aktif di dunia—pemahaman ini sangat relevan.
Gunung Merapi yang terus menunjukkan aktivitas vulkanik menjadi bukti nyata dari proses subduksi di selatan Jawa.
Pengetahuan tentang gerakan lempeng tidak hanya membantu siswa memahami pelajaran sekolah, tetapi juga meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa, erupsi, serta potensi tsunami di pesisir selatan seperti Gunungkidul dan Bantul.
Beberapa pesan penting yang disampaikan dalam utas itu adalah pentingnya evakuasi segera ke tempat tinggi saat gempa dirasakan di wilayah pantai, serta menghindari berlari ke daratan jika sedang berada di kapal dekat pantai melainkan mengarahkan kapal ke laut lepas.
Penjelasan yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan mudah dicerna ini mendapat sambutan positif dari banyak netizen, khususnya para pelajar dan guru geografi, karena berhasil membuat materi pelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di wilayah rawan bencana seperti Yogyakarta. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin