Rektor UMY, Ahmad Nurmandi, menyebutkan bahwa total ada 28 mahasiswa yang berasal dari daerah tersebut.
Ia menjelaskan, kondisi para mahasiswa yang terdampak bencana saat ini, sebagian sudah kehilangan orang tua dan ada juga yang rumahnya rusak atau hilang.
Selain memberikan bantuan biaya hidup, pihak universitas juga membebaskan biaya pendidikan hingga mahasiswa tersebut selesai kuliah.
"Ya kalau ada sebagian orang, orang tuanya sudah tidak ada lagi, ada yang rumahnya rusak harus bantuan. Bantuan bisa berupa biaya hidup dan bebas bayar SPP sampai pendampingan sampai lulus," katanya.
Selain bantuan berupa benda barang, Nurmandi mengatakan, beberapa mahasiswa juga mendapatkan bantuan secara psikologis, terutama mereka yang kehilangan rumah, orang tua, dan saudara-saudaranya.
“Ada yang dari Batang Toru, Aceh Tamiang, Agam, umumnya agak parah,” katanya.
Ia berharap bantuan tersebut dapat terwujud pada Januari 2026. Tujuannya adalah agar mahasiswa tetap bisa menyelesaikan studinya dengan bantuan biaya hidup dan pembebasan SPP.
Selain itu, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga memberikan bantuan kepada korban bencana.
Dinas Kesehatan DIY mengirimkan bantuan berupa obat-obatan sebanyak 840 kilogram untuk para korban banjir dan longsor di Sumatra.
Bantuan ini diambil dari stok cadangan yang dimiliki DIY dan diberikan terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan medis dasar di lokasi bencana.
“Jadi ini kami di Dinas Kesehatan mempunyai buffer stock. Dan dengan adanya bencana di Sumatera ini, kemarin kami dapat arahan bisa dipergunakan untuk membantu,” ujar Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi.
Obat yang dikirim berupa analgesik, antipiretik, obat untuk gatal, multivitamin, dan masker.
Pengiriman dilakukan secara bertahap dengan bekerja sama dengan pihak-pihak tertentu, seperti TNI AU dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Penulis: Ocha
Editor : Bahana.