Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pro Kontra Wacana Enam Hari Sekolah di Jawa Tengah, Siswa Biasa Pulang Sore, Guru Sebut Waktu Lebih Luang

Naila Nihayah • Jumat, 28 November 2025 | 06:45 WIB
PAPARAN: Siswa Kota Magelang saat mengikuti kegiatan sosialisasi investasi dunia anak di Taman Kyai Langgeng, Rabu (22/10).
PAPARAN: Siswa Kota Magelang saat mengikuti kegiatan sosialisasi investasi dunia anak di Taman Kyai Langgeng, Rabu (22/10).

 

Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk kembali menerapkan sistem enam hari sekolah di tingkat SMA/SMK negeri memunculkan beragam respons.

Sejumlah pihak, mulai dari wali siswa hingga tenaga pendidik, memberikan pandangan berbeda terkait efektivitas, kesiapan, serta dampak kebijakan tersebut terhadap siswa dan lingkungan sekolah.

Respons itu satu di antaranya datang dari orang tua siswa asal Kota Magelang, Ch Kurniawati.

Dia secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya. Dia menilai, lima hari sekolah yang saat ini diterapkan sudah berjalan baik dan lebih ramah terhadap keseimbangan waktu keluarga.

Sebagai orang tua mengaku sudah nyaman dengan aturan lima hari sekolah. "Orang tua yang juga lima hari kerja bisa lebih banyak berinteraksi dengan anak-anaknya di rumah. Enggak repot antar-jemput," ujarnya, Kamis (27/11).

Menurut Kurniawati, ritme belajar bukan semata ditentukan jumlah hari efektif sekolah, melainkan kesiapan individu siswa.

Dia menambahkan, Sabtu sebagai hari libur telah menjadi ruang pemulihan fisik dan psikis bagi pelajar yang kini terbiasa pulang sore akibat padatnya jadwal belajar lima hari sekolah.

Soal fokus belajar, lanjut dia, tergantung anaknya, entah lima atau enam hari sekolah. "Tapi sepanjang yang saya tahu, anak-anak sudah terbiasa pulang sore. Di Sabtu bisa istirahat, berkumpul dengan keluarga atau teman-temannya," tambahnya.

Dia juga menilai, pemerintah seharusnya memperkuat kebijakan yang sudah berjalan, bukan membongkarnya kembali.

Perubahan sistem, menurut dia, justru akan menimbulkan kebingungan dan kelelahan adaptasi di kalangan siswa, orang tua, dan tenaga pendidik. "Pemerintah harusnya membuka lagi alasan kenapa dulu ada lima hari sekolah," tuturnya.

Berbeda dengan Kurniawati, sebagian tenaga pendidik justru melihat peluang positif dari rencana perubahan ini. Tatik Fitri Kuswanti, guru di SMA Negeri 1 Grabag menilai, sistem enam hari sekolah berpotensi memberi ruang lebih luas bagi siswa untuk beraktivitas non-akademik dan mengurangi kelelahan akibat jadwal panjang dalam lima hari pembelajaran.

Ketika enam hari sekolah, kata dia, siswa dipulangkan pukul 13.30 atau 14.00. Setelah itu mereka bisa istirahat atau mengikuti kegiatan lain seperti mengaji maupun bimbingan belajar.

"Dibandingkan lima hari sekolah sampai pukul 15.30, enam hari bisa lebih ringan," jelasnya.

Menurut Tatik, sistem enam hari juga memungkinkan pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi sekolah menjadi lebih ideal. Ketika jam belajar dibagi dalam durasi lebih pendek, siswa dinilai lebih leluasa mengeksplorasi minat dan bakat, tanpa terbebani kelelahan fisik seperti saat ini.

"Kalau lima hari sekolah, ekstrakurikuler hanya bisa sekali seminggu. Tapi kalau enam hari, bisa dua atau tiga kali," terangnya.

Namun, Tatik mengakui, penerapan kebijakan ini tidak bisa dilakukan begitu saja. Penataan ulang jadwal, kurikulum, metode pembelajaran, dan pola kerja guru dinilai perlu disesuaikan kembali.

"Karena sudah beberapa tahun dilakukan lima hari sekolah, jadi tetap harus adaptasi. Tidak bisa mendadak," katanya.

Dia juga menyarankan pemerintah melakukan uji coba terbatas sebelum regulasi diterapkan penuh. "Uji coba dua atau tiga pekan perlu dilakukan. Kalau kurang maksimal bisa kembali ke lima hari, tapi kalau efektif bisa diteruskan," lontarnya.

Editor : Heru Pratomo
#Magelang #enam hari sekolah #lima hari sekolah #Siswa #pro kontra #pemprov #jawa tengah