KEBUMEN - Siswa di Kebumen merasa keberatan dengan pemberlakuan enam hari sekolah. Atas hal ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tegah dinilai tak konsisten. Ujungnya, siswa akan merasakan dampak karena harus beradaptasi buntut munculnya kebijakan tersebut.
Ketua Osis SMAN 1 Kebumen Noor Wahyu Ramadhan meminta pemprov tidak memaksakan kebijakan enam hari sekolah. Sebab jika kebijakan ini tetap dipaksakan akan merusak tatanan sekolah yang selama ini telah dibangun lebih dari lima tahun.
"Kami minta pemerintah tetap komitmen. Jangan selalu berganti kebijakan," ucapnya kepada Radar Jogja, Kamis (27/11).
Di satu sisi, pemerintah juga harus memperhatikan kondisi guru yang berdinas jauh dari tempa tinggal. "Saya lihat kurang sesuai. Pemprov harusnya menampung aspirasi dari guru dan siswa," bebernya.
Hal senada disampaikan, Ketua Majelis Perwakilan Kelas (MPK) SMAN 1 Kebumen Ahmad Raunaq Indrabig mengatakan, kebijakan enam hari sekolah jauh dari harapan siswa. Apalagi pola pembelajaran di sekolah selama ini telah tertata sedemikian rupa.
Oleh karena itu dia meminta Pemprov Jateng mengambil langkah agar kebijakan tersebut tidak mengganggu kenyamanan siswa.
"Kebanyakan tidak setuju. Habbit akan berubah derasis. Pastinya akan menimbulkan syok dan menurunkan semangat," ungkapnya. (fid)
Editor : Heru Pratomo