Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemprov Jateng Terapkan Enam Hari Sekolah, Kota Magelang Sebut Lima Hari Sekolah Sudah Beri Dampak Positif

Naila Nihayah • Selasa, 25 November 2025 | 14:55 WIB
TANAMKAN KESADARAN: Wali Kota Magelang memberikan sosialisasi kepada ratusan siswa SMP terkait pencegahan konflik sosial Rabu (1/10).
TANAMKAN KESADARAN: Wali Kota Magelang memberikan sosialisasi kepada ratusan siswa SMP terkait pencegahan konflik sosial Rabu (1/10).

 

MAGELANG - Pemprov Jateng kembali mewacanakan penerapan enam hari sekolah untuk jenjang SMA/SMK. Meski informasi awal sudah diterima daerah, hingga kini surat resmi kebijakan tersebut belum diterbitkan.

Kota Magelang pun masih menunggu keputusan final sembari menyiapkan kajian alternatif jika daerah diberi ruang untuk menentukan kebijakan masing-masing.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Nurwiyono Slamet Nugroho mengatakan, kewenangan pengelolaan SMA/SMK sepenuhnya berada di tangan provinsi.

Karena itu, setiap kebijakan yang bersifat wajib akan langsung diikuti daerah.

"Sudah terinformasi, tapi surat resminya belum. Kalau itu memang kebijakan di Jateng semua harus enam hari, kita mengikuti," ujar dia di kantornya, Senin (24/11).

Namun, jika pemprov membuka peluang bagi kabupaten/kota untuk menyesuaikan kebijakan sesuai kebutuhan, Kota Magelang akan melakukan kajian berbasis data. Nurwiyono menegaskan, efektivitas kegiatan belajar mengajar serta kondisi peserta didik akan menjadi pertimbangan utama.

"Kami akan gali lagi, cari datanya, apakah dengan lima hari itu lebih efektif, anak-anak lebih bagus, potensi kenakalan remaja berkurang, ya berarti pilih yang lima hari. Tapi kalau ternyata enam hari lebih efektif, ya dikaji lagi," jelasnya.

Keputusan apa pun nantinya akan dibahas bersama para pemangku kepentingan. Termasuk kepala sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah. Guna mencari solusi yang lebih efektif dan efisien.

Sebetulnya, Nurwiyono mencatat, ada indikasi positif selama penerapan lima hari sekolah. Menurut dia, beberapa permasalahan pelajar, seperti tawuran dan kenakalan remaja, menunjukkan tren penurunan.

"Sementara kami kemarin duduk bersama dengan kepala sekolah, terinformasi kenakalan remaja, perkelahian, dan lain-lainnya menurun," ungkapnya.

Dinamika di masyarakat, termasuk penolakan sebagian orang tua terhadap kebijakan masuk sekolah pukul 06.30 merupakan hal wajar.

Namun setelah memahami tujuan besar kebijakan tersebut, termasuk pembentukan karakter lewat program Anak Indonesia Hebat, dukungan masyarakat mulai menguat.

Program tersebut meliputi tujuh pembiasaan positif, di antaranya bangun pagi, berolahraga, beribadah, sarapan, belajar, bermasyarakat, hingga tidur lebih awal.

Menurutnya, ritme harian itu sangat mendukung pembangunan karakter peserta didik sekaligus selaras dengan kebijakan pemerintah pusat. "Jadi sinergitas dari kebijakan di kota dengan kementerian, saya kira bagus," ujarnya. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Magelang #enam hari sekolah #lima hari sekolah #pemprov jateng #Disdikbud #kajian #SMA/SMK