RADARJOGJA - Cara bertuturnya runut. Pembawaannya tenang. Dia bisa menjawab berbagai pertanyaan dengan lugas dan smart.
Itulah Septi Fitriani, salah satu siswi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 Bantul saat menjawab beragam pertanyaan awak media.
Selama empat bulan mengenyam pendidikan di sekolah yang digagas Presiden Prabowo Subianto itu, warga Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, tersebut mengalami banyak perubahan.
"Yang jelas saya rasakan peningkatannya adalah kedisiplinan dan kemandirian," tutur Septi saat ditemui di SRMA 19 Bantul, Kamis (6/11).
Septi tak menyangka akan mengalami banyak perubahan dalam hidupnya.
Dulu, sehari-hari rutinitas Septi membantu kedua orang tuanya.
Bahkan ikut turut bertanggung jawab atas perekonomian keluarganya. Di usianya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), Septi kerap mencari barang rongsokan untuk dijual.
"Sebelum dijual harus dipilah dulu. Diambil mana yang bisa laku," ucapnya.
Mencari rongsokan hanya salah satu rutinitasnya sehari-hari.
Ya, ada seabrek rutinitas yang seharusnya tidak dilakukan anak seusianya.
Sepulang sekolah, misalnya, Septi mencari kayu ranting yang patah untuk dibawa ke rumah.
Agar dapur kedua orang tuanya bisa tetap mengepul.
"Mamak (ibu, Red) masih memasak menggunakan kayu bakar," ujar anak semata wayang ini.
Seolah tidak ada waktu libur bagi gadis yang mulai menginjak usia dewasa ini.
Di akhir pekan, contohnya, Septi ikut membantu ibunya membersihkan halaman rumah tetangganya.
Sekali lagi itu dilakukan semata-mata agar roda perekonomian keluarganya tetap bisa berputar.
"Ibu sehari-hari jadi ART (asisten rumah tangga). Kalau bapak dulu jadi tukang becak, tapi belakangan sudah berhenti karena sakit. Jadi, di rumah saja," ungkap gadis berjilbab ini dengan mata berkaca-kaca.
Awal perubahan kecil hidup Septi dimulai sejak ada sosialisasi dan tawaran dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Tak butuh waktu lama, Septi memutuskan mengambil tawaran untuk mendaftar di SMRA 19. Pun dengan kedua orang tuanya.
"Tadinya nggak ada niatan masuk sini (SRMA 19, Red). Penginnya sekolah negeri biasa," jelasnya.
Kakinya sudah melangkah maju.
Septi pun tak ingin menyia-nyiakan salah satu peluang dalam hidupnya.
Septi remaja bercita-cita kelak ingin mengambil jurusan pertambangan selepas lulus SMRA 19.
"Inginnya di ITB atau UGM," ucap lulusan SMPN 2 Imogiri ini.
Septi adalah salah satu siswi SRMA 19 yang mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya.
Banyak siswa sekolah yang terletak di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, itu merasakan hal serupa.
Dwi Hidayat, contohnya.
Siswa asal Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Kulon Progo, ini serius ingin mewujudkan impiannya sebagai guru.
Cita-cita itu, baginya, tidak mustahil. Meski, Dwi berasal dari keluarga kurang mampu.
"Di sini bisa belajar dengan fokus karena tidak mikir apa-apa lagi.
Seluruh kebutuhan sudah terfasilitasi," kata tiga bersaudara ini dengan semringah.
Dwi bersyukur bisa mengenyam pendidikan di SRMA 19.
Rutinitasnya kini jauh berbeda dibanding saat masih duduk di bangku SMP.
Dulu, Dwi saban hari, persisnya sejak pukul 15.00 hingga pukul 02.00 WIB harus bekerja di salah satu warung sate di Kapanewon Wates.
Itu dilakukan untuk membantu perekonomian keluarganya.
"Ibu bekerja sebagai pemulung. Sedangkan bapak kerja serabutan menjadi kuli bangunan," tuturnya.
Ada 200 siswa yang bersekolah di SRMA 19.
Bagi Dwi, berbagai latar belakang keluarga teman-teman seangkatannya itu sebagai berkah. Dwi bisa berbagi rasa dan cerita kepada mereka.
"Kita saling memotivasi dan sharing. Tidak ada bullying di sini," tegas ketua OSIS SRMA 19 ini.
Di SRMA 19 ini pula Dwi banyak belajar dari guru-gurunya.
Dwi kagum dengan kemampuan public speaking sekaligus ketelatenan guru-gurunya.
Mereka akan memberikan threatment khusus kepada teman-temannya yang lambat memahami materi pelajaran.
"Sehingga, siswa akhirnya bisa memahami materi pelajaran," kata siswa yang memiliki kemampuan public speaking mumpuni ini.
Humas SRMA 19 Lilik Eka Saputra mengungkapkan, kebutuhan sehari-hari siswa tercukupi dengan baik.
Untuk makan, misalnya, sehari tiga kali. Siswa juga difaslitasi untuk mengembangkan kemampuan non-akademiknya melalui program ekstrakurikuler.
"Seluruh siswa tinggal di asrama. Siswa juga punya wali asrama dan wali asuh," ungkapnya.
Kelak, kata Lilik, setiap siswa juga akan mendapatkan fasilitas berupa komputer jinjing.
Saat ini sekolah masih melakukan inventarisasi dan instalasi.
Fasilitas ini untuk menunjang pembelajaran siswa.
Sebab, SMRA 19 memiliki materi pembelajaran coding dan artificialintelligence.
"Tiap kelas juga akan dilengkapi dengan smart board. Fasilitas teknologi sudah lebih dari cukup," tambahnya.
Guru mata pelajaran Geografi ini optimistis SRMA 19 akan melahirkan lulusan yang mumpuni. Baik secara intelektual maupun kepribadian.
"Di asrama, siswa diajarkan kemandirian dan kedisiplinan. Kehidupan di asrama juga melahirkan kepekaan sosial yang luar biasa," tuturnya. (zam)
Editor : Meitika Candra Lantiva