KULON PROGO - Siswa MTsN 6 Kulon Progo punya cara unik dalam melestarikan budaya Jawa.
Bukan hanya tentang berpakaian adat jawa di Kamis Pon, siswa juga terbiasa menggunakan bahasa jawa di linngkup sekolah.
Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 6 Kulon Progo Muhammad Muslich Purwanto menjelaskan, program yang dilucurkan sekolahnya bernama Program Berbahasa dan Berbusana Jawa.
Program tersebut dilakukan setiap Kamis Pon dan dilakukan selama sehari penuh.
"Program ini merupakan gagasan OSIS, tentu sekolah sangat mendukung," ucap Purwanto, Jumat (24/10/2025).
Purwanto menjelaskan, program telah berjalan selama sebulan terakhir.
Memang secara khusus sekolah-sekolah di DIY diwajibkan mengenakan busana jawa setiap Kamis Pon.
Akan tetapi, siswa tak diwajibkan menggunakan bahasa jawa ketika beraktivitas di sekolah.
Mendengar usulan dari OSIS MTsN 6 Kulon Progo, guru-guru mendukung penggunaan bahasa jawa bersamaan dengan penggunaan pakaian adat.
Alhasil, program berbahasa dan berbusana jawa berhasil dilakukan.
Program ini, mendapat sambutan dari orangtua ataupunwali murid.
Sebab, generasi muda mulai meninggalkan bahasa jawa.
Bahkan beberapa anak muda tak bisa membedakan krama inggil dan ngoko pada situasi penggunaan bahasa jawa.
Melalui program itu, siswa dapat mempraktekkan penggunaan bahasa jawa langsung dalam keseharian.
"Penggunaan bahasa jawa di masyarakat sangat penting, agar anak-anak tidak kagok ketika bersosial," ungkapnya.
Fasih berbahasa jawa ternyata masih menjadi modal sosial bagi generasi muda.
Lantaran, banyak kegiatan masyarakat yang membutuhkan komunikasi berbahasa jawa.
Tentu, kefasihan bahasa jawa ini tidak ditempa dengan hanya pembelajaran di ruang kelas. Melainkan butuh praktek secara langsung.
Selain untuk bersosialisasi, penggunaan bahasa jawa yang fasih diharapkan menjadi modal yang bisa dikembangkan siswa-siswanya.
Lantaran, banyak peluang usaha dari penggunaan bahasa jawa. Mulai dari bahasa jawa untuk pranatacara hingga kegiatan masyarakat lainnya.
Sementara itu, Ketua OSIS MTsN 6 Kulon Progo Ridho Putra mengungkapkan alasan pengajuan program tersebut.
Ia dan rekannya mengaku prihatin dengan ketidakfasihan penggunaan bahasa jawa di kalangan anak muda.
Padahal bahasa jawa merupakan identitas yang patut dilestarikan.
"Fokusnya nguri-nguri budaya jawa, dan menjaga agar jati diri anak muda tidak luntur," ujarnya.
Program Berbahasa dan Berbusana Jawa merupakan program yang ditujukan untuk seluruh warga sekolah.
Mulai dari siswa, guru, hingga tenaga pendidik setiap Kamis Pon berbusana dan menggunakan bahasa jawa.
Penggunaan bahasa jawa dilakukan tidak hanya untuk sesama siswa.
Komunikasi antar guru, ataupun siswa menggunakan bahasa jawa selama sehari penuh dan selama di dalam kelas. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva