Sejak kepemimpinan Kepala Sekolah Agung Rahmanto dimulai pada Januari 2015 silam, sekolah ini menjalankan peta jalan pengembangan pendidikan jangka panjang yang berfokus pada empat brand utama, sekolah karakter, sekolah literasi, sekolah multitalenta, dan sekolah digital.
"Empat pilar tersebut menjadi dasar bagi seluruh program sekolah, termasuk intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler," kata Agung pada Radar Jogja, Sabtu (18/10).
Diakuinya, langkah pertama yang ia lakukan saat dipercaya menjadi kepala sekolah adalah banyak mendengar.
Ia pasang telinga, mencari tahu apa yang diinginkan orang tua dan warga sekolah. Dari situ ia mulai merumuskan visi besar sekolah.
"Sapen harus tumbuh, bergerak, penuh inovasi, dan menyesuaikan zamannya. Visi kami terbentuknya pribadi muslim yang unggul, berakhlak, berwawasan global, dan berkemajuan," ungkapnya.
Agung menjelaskan, sejak 2015 sekolahnya telah memiliki peta jalan hingga 2025.
Empat brand yang disusun tidak hanya masih relevan, tetapi justru semakin menguat dengan hadirnya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui kebijakan kurikulum merdeka.
"Salah satu aspek penting kurikulum merdeka adalah digitalisasi sekolah. Kami sudah lebih dulu melakukannya dan siap menghadapi tantangan itu," katanya.
Di samping itu, langkah lain yang dilakukan adalah pembenahan sistem pembelajaran, termasuk pengurangan jumlah siswa di setiap kelas.
Jika pada 2015 jumlah siswa mencapai 38–40 orang per kelas, kini jumlahnya turun menjadi 28–32 siswa.
"Kami ingin bukan hanya kuantitas, tapi kualitas. Dengan jumlah siswa yang lebih sedikit, proses pembelajaran bisa lebih fokus dan efektif," ujar Agung.
Lebih lanjut, Sapen juga dikenal sebagai sekolah yang memberi ruang luas bagi pengembangan bakat dan minat siswa.
Saat ini terdapat 39 kegiatan ekstrakurikuler yang dikelompokkan dalam empat rumpun, yaitu keagamaan, olahraga, budaya, serta sains dan matematika.
Siswa diberi kebebasan memilih kegiatan sesuai minatnya. Beberapa program unggulan di antaranya Tahfiz Al-Qur’an, Tahsin, Qiroah, Bahasa Arab, Klub Matematika, Klub Sains, English Club, robotik, coding, fotografi, animasi, seni rupa, musik, teater, sepak bola, bulu tangkis, renang, Tapak Suci, serta Pramuka.
"Anak-anak punya minat dan bakat yang beragam. Sekolah harus memfasilitasi semua itu secara merata dan adil," kata Agung
Ia menambahkan, setiap kegiatan ekstrakurikuler juga memiliki jenjang lanjutan berupa sanggar bagi siswa yang berbakat untuk persiapan kompetisi nasional.
"Tagline kami jelas, berkolaborasi, berprestasi, dan menginspirasi," bebernya.
Di sisi lain, kekuatan Sapen juga terletak pada kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Agung menilai tiga elemen tersebut menjadi pondasi kuat keberhasilan sekolah.
"Gedung kami tidak mewah, tapi sistemnya kuat. Kami bangun sistem yang kokoh agar ke depan Sapen bisa berjalan seperti kendaraan auto pilot. Siapapun yang menjalankan, sistemnya sudah siap," jelasnya. (iza)
Editor : Bahana.