MAGELANG - Semangat demokrasi tak mengenal batas, termasuk bagi para siswa difabel di SLB Negeri Kota Magelang. Kamis (16/10), mereka membuktikan bahwa keterbatasan fisik maupun intelektual bukan penghalang untuk ikut serta dalam proses pemilihan yang jujur dan adil.
Sebanyak 94 siswa difabel menyalurkan hak pilihnya dalam Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS (Pemilos) periode 2025–2027.
Bertempat di aula sekolah, suasana Pemilos dibuat menyerupai proses pemilu nasional. Ada surat undangan, meja registrasi, bilik suara, hingga kotak suara transparan. Semua tahapan dirancang ramah difabel dengan dukungan penuh dari KPU Kota Magelang.
“Anak-anak belajar bahwa suara mereka penting. Mereka bukan sekadar memilih, tapi juga berlatih menjadi warga negara yang bertanggung jawab,” ujar Raihan Dwi Prasetya, Ketua KPPS Pemilos, di sela-sela pemungutan suara.
Dari total 128 siswa dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), yang terdiri dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa, sebanyak 94 orang menggunakan hak pilihnya. Sebanyak 93 suara dinyatakan sah dan hanya 1 suara tidak sah.
Setiap siswa sebelumnya telah diberi pelatihan dan simulasi selama seminggu agar memahami proses pemungutan suara.
Beberapa pendamping juga mendampingi siswa yang memerlukan bantuan dalam mengenali surat suara atau arah bilik.
“Bagi kami, ini bukan sekadar kegiatan OSIS. Ini adalah proses pendidikan karakter dan demokrasi yang sangat penting,” tutur Rini Sularsih, guru pendamping untuk siswa dengan hambatan pendengaran.
Paslon 02 Menang, Semua Siswa Jadi Pemenang
Para calon ini menjanjikan berbagai program yang sesuai kebutuhan siswa, seperti pengembangan perpustakaan, kegiatan olahraga rutin, dan suasana belajar yang lebih menyenangkan.
Dari hasil penghitungan suara, pasangan calon nomor urut 02, M. Ammar Muhadzdib dan M. Fakhry Jamalussacki, keluar sebagai pemenang dengan perolehan 45 suara.
Namun lebih dari sekadar angka, seluruh peserta dinilai telah menang karena berhasil menjalani proses demokrasi yang inklusif, setara, dan penuh makna.
Selain melatih keberanian, Pemilos ini juga memberi ruang bagi siswa difabel untuk belajar menyampaikan pendapat, membangun komunikasi, dan mengambil keputusan.
Guru-guru pun memberi pendampingan khusus bagi calon yang sebelumnya belum terbiasa tampil di depan umum.
“Awalnya mereka gugup, tapi perlahan tumbuh percaya diri. Ini latihan berharga agar mereka kelak siap menghadapi dunia luar,” ujar Rini.
Martalita Ananda Puspita, salah satu peserta Pemilos, mengaku bangga bisa mengikuti pemilihan secara langsung.
“Senang bisa nyoblos, bisa pilih teman yang mau jadi ketua. Kayak pemilu beneran,” ucapnya dengan senyum lebar. (aya/pra)
Editor : Herpri Kartun