JOGJA - Sejak pagi, aula dan lapangan SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta ramai oleh deretan siswa dari jenjang pendidikan SD dan SMP.
Mereka duduk berkelompok, berlatih membaca, menghafal, atau sekadar menenangkan diri menunggu giliran tampil.
Di antara ratusan peserta Lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) SD-SMP 2025 itu, ada tiga siswi dari SMP Muhammadiyah 5 kota Jogja yang menarik perhatian.
Ketiganya mengikuti cabang Cerdas Cermat Agama (CCA).
Mereka adalah Aura Nurul Tanzhara (kelas 9B), Irma Dwi Desvita Sari, dan Ika Ramadhani (kelas 9A).
Ketiga siswi tersebut tampil mewakili sekolahnya, untuk berkompetisi CCA dengan dua puluh empat kelompok dari sekolah lainnya.
Dengan persiapan kurang lebih satu bulan lamanya.
"Sekarang lebih percaya diri dan lebih enak karena berkelompok. Bisa saling dukung satu sama lain," ujar Irma, Sabtu (11/10/2025).
Untuk diketahui, bagi Aura dan Irma, ini bukanlah kali pertama mereka ikut lomba MTQ.
Tahun lalu, Irma mengikuti cabang Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), sementara Aura sudah pernah ikut CCA juga.
"Kalau tahun lalu aku lomba hafalan sendirian, lebih tegang. Sekarang lebih tenang karena ada teman," tambah Irma.
Sementara bagi Ika, ini menjadi pengalaman pertamanya bisa tampil di ajang MTQ. Secara pribadi, ia mengaku memiliki perasaan yang campur aduk, senang dan gugup di saat yang bersamaan.
"Senang banget bisa ikut, tapi tetap gugup juga. Kami latihan sekitar sebulan. Tidak ada target spesifik harus menang, tapi bisa tampil maksimal dan nambah pengalaman," ucapnya.
Menurut mereka, dukungan guru dan sekolah sangat besar dan signifikan.
Selama beberapa pekan menjelang lomba, mereka rutin melakukan simulasi soal dan latihan memahami konteks pertanyaan seputar Al-Qur’an dan akhlak.
"Semingguan terakhir ini full latihan, mulai dari materi fiqih, hadist, dalil dan lainnya," ungkap Ika.
Sementara itu, salah satu orang tua yang ikut mendampingi anaknya, Siti Rohmah, turut merasakan kebanggaan tersendiri.
Ia mengaku mendampingi anaknya untuk mengikuti lomba pidato jenjang SD.
Sebagai ibu, ia merasa terharu melihat antusias anak-anak mengikuti lomba bernuansa keagamaan seperti ini.
"Anak saya semangat banget latihan tiap malam. Saya senang karena lewat lomba ini dia belajar berani tampil. Jadi bukan hanya soal menang atau kalah," tuturnya.
Siti menilai kegiatan seperti MTQ ini sangat penting di tengah gempuran media sosial dan hiburan digital yang sering menjauhkan anak-anak dari nilai agama.
"Sekarang banyak anak lebih sibuk main HP. Kegiatan seperti ini bikin mereka punya kegiatan positif, dan mengenal agama dengan cara yang menyenangkan," tambahnya.
Sebagai orangtua, ia berujar bahwa kebanggaannya bukan soal menang atau kalah sang anak dalam lomba.
Namun, punya kemampuan dan keberanian untuk tampil adalah sesuatu yang menurutnya sudah cukup.
"Saya tidak membebani anak saya, dia bisa dan mau tampil ini saja saya senang sekali. Menang cuma bonus, kalau dapat ya alhamdulilah," pungkasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva