Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja Budi Santosa Asrori mengatakan, program Jumat Wage memiliki nama Gerakan Reresik Sekolah.
Program tersebut sudah dilakukan di semua sekolah sejak 2 Mei 2025 yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.
Gerakan Resik-resik Sekolah merupakan bentuk penanganan sampah yang dilakukan satuan pendidikan. Tujuannya tak sekadar untuk mengurangi beban timbulan sampah di Kota Jogja.
Namun lebih dari itu, lewat Jumat Wage pihaknya ingin membentuk budaya peduli lingkungan kepada para siswa. Sekaligus menumbuhkan rasa gotong royong.
“Program ini bertujuan untuk mengurangi beban Pemkot Jogja dalam hal pengelolaan sampah, sekaligus menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan,” ujar Budi saat dikonfirmasi Radar Jogja, Minggu (21/9/2025).
Budi pun menyampaikan, pemilihan hari Jumat Wage untuk program Gerakan reresik Sekolah juga bukan tanpa alasan. Namun juga diselaraskan dengan program lainnya.
Sebelum Jumat Wage pasti ada Kamis Pon yang mewajibkan siswa untuk menggunakan ageman gagrak Ngayogyakarta. Sehingga dipilihnya hari Jumat Wage harapannya bisa lebih mudah diingat oleh para siswa.
Budi menyampaikan, produksi sampah dari satuan pendidikan di Kota Jogja sejatinya sudah lama diminimalisasi. Langkahnya dilakukan dengan pemilahan sampah anorganik dan organik.
Untuk sampah organik, sekolah-sekolah di Kota Jogja sudah mampu mengolahnya menjadi kompos. Sementara untuk sampah anorganik sebagian besar sekolah sudah bekerjasama dengan bank sampah.
“Gerakan reesik Sekolah merupakan dukungan satuan pendidikan di Kota Jogja terkait permasalahan sampah,” tegasnya.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, Jumat Wage merupakan salah satu program percepatan atau quick win di 100 hari pertama masa kerja Hasto-Wawan.
Adapun wujud program Jumat Wage berupa kegiatan kerja bakti di lingkungan sekolah.
Dilakukan oleh seluruh jenjang satuan pendidikan dari PAUD hingga SMP.
“Instruksi kami itu memang sekolah harus ada hari kerja baktinya, Jumat Wage adalah bagian dari quick win dan harus dipertahankan,” ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja, Jumat (21/9/2025).
Mantan Kepala BKKBN itu menambahkan, meskipun dilakukan oleh unsur-unsur sekolah seperti siswa dan guru, program Jumat Wage memiliki misi bisa berdampak pada masyarakat luas.
Sehingga, Hasto menekankan bahwa kegiatan kerja bakti yang minimal harus memiliki cakupan 200 meter.
Dalam arti, lingkungan sekitar sekolah juga wajib dibersihkan. “Sehingga sekolah bisa punya kewajiban dan kepekaan sosial terhadap kebersihan lingkungan sekitar,” jelas Hasto. (inu/pra)
Editor : Herpri Kartun