JOGJA - Jumlah Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Kota Jogja masih minim. Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja, hingga sekarang baru ada 42 sekolah berstatus SPAB. Padahal, jumlah satuan pendidikan ada 223 unit. Perinciannya, 165 SD dan 58 SMP.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Jogja Darmanto berkomitmen akan terus menggenjot jumlah sekolah berstatus SPAB. Tahun ini, misalnya, BPBD menargetkan tambahan 10 sekolah.
”Sehingga, sampai akhir tahun jumlah SPAB ada 54 sekolah,” jelas Darmanto, Rabu (3/9/2025).
Baca Juga: Musim Potensi Bencana Meningkat di Masa Pancaroba, BPBD Kota Jogja Waspada Tiga Bulan ke Depan
Menurutnya, pemberian pemahaman perihal kebencanaan sangat penting. Terutama untuk siswa. Itu bisa meminimalisasi jatuhnya korban jiwa saat terjadi bencana besar. Karena itu, Darmanto menegaskan, BPBD sebenarnya ingin menjangkau sosialisasi SPAB ke seluruh sekolah di Kota Jogja. Baik negeri maupun swasta. Hanya, kemampuan anggaran BPBD terbatas.
”Untuk sementara sekolah negeri dulu,” ucapnya.
Dalam SAPB, Darmanto memaparkan, sekolah akan diberikan materi seputar jenis bencana. Juga, analisis risiko di sekolah, penyusunan rencana kontinjensi, prosedur evakuasi, hingga praktik pertolongan pertama saat kondisi gawat darurat.
Selain itu, juga diberi pemahaman tentang potensi bahaya di lingkungan sekitar sekolah, identifikasi kapasitas sekolah, dan pembentukan tim siaga bencana. Serta penyusunan rencana aksi hingga simulasi bencana. Karena itu, pelaksanaan SPAB melibatkan seluruh warga sekolah. Mulai siswa, guru, karyawan, komite sekolah, orang tua, hingga warga sekitar.
“Melalui program ini warga sekolah dapat mengenali serta memahami potensi bencana di lingkungan sekitar dan membentuk tim siaga bencana sekolah yang solid,” bebernya.
Baca Juga: Pastikan Bebas Bahan Berbahaya, Dinkes Kota Magelang Awasi Jajanan di Sekolah dan Pasar
Kepala Sekolah SMPN 10 Jogja Edy Thomas Suharta menilai, program SPAB dapat memberikan dampak positif. Yakni membantu mewujudkan lingkungan belajar yang aman dan peduli keselamatan bersama.
Dia berharap pemerintah bisa memberi dukungan lebih terhadap program tersebut. Misalnya, pelatihan berkelanjutan dan penyediaan fasilitas darurat di sekolah yang memadai.
“Sehingga sekolah semakin tangguh dan siap menghadapi berbagai resiko bencana,” ungkapnya. (inu/zam)
Editor : Sevtia Eka Novarita