Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perguruan Tinggi Menjadi Kunci Masa Depan Energi Bersih Indonesia

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 24 Agustus 2025 | 20:48 WIB

Istimewa
Istimewa
JOGJA - Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia masih menghadapi tantangan yang harus segera diselesaikan.

Keterlibatan akademisi dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam melakukan pemberdayaan menyasar masyarakat pedesaan.

Dosen Program Studi Teknik Sistem Energi, Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) Dimas Taufiq Ridlo menyampaikan bahwa pada Rancangan Undang-Undang APBN 2026, pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) mendapatkan kucuran dana Rp 402,4 triliun.

Angka yang cukup besar itu diyakini merupakan sinyal bergesernya arah pembangunan energi nasional yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

"Patut diapresiasi, namun tidak menutup mata bahwa jalan menuju kemandirian energi bersih masih panjang dan penuh tantangan," ujarnya kepada Radar Jogja, Selasa (19/8).

Kontribusi EBT dalam bauran energi nasional baru 14.68 persen dari target 19,5 persen yang harusnya tercapai tahun 2024.

Masih jauhnya antara realisasi dan target menunjukkan adanya kesenjangan besar antara perencanaan dan realisasi di lapangan.

Beberapa tantangan yang didapat diantaranya kesenjangan kompetensi sumber daya manusia, adaptasi teknologi yang masih berjalan lambat dan sinergi antara pemerintah, industri, dan akademisi masih belum optimal.

"Kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadi motor utama keberhasilan negara-negara lain dalam mengakselerasi energi terbarukan," bebernya.

Tanpa ekosistem yang saling menguatkan, lanjutnya, investasi dan riset hanya akan berhenti sebagai wacana, bukan implementasi nyata.

Tantangan ini semakin terlihat nyata ketika menyadari kompleksitas sistem energi di perkotaan yang membutuhkan daya dukung infrastruktur sangat besar.

"Justru karena itu, strategi transisi energi tidak boleh terfokus pada kota semata, melainkan perlu dimulai dari pedesaan," katanya.

Desa yang kerap dianggap tertinggal, menurutnya justru menyimpan potensi energi terbarukan yang melimpah.

Desa-desa di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) sesungguhnya bisa menjadi pionir kemandirian energi, asalkan diberikan pendampingan yang tepat serta teknologi yang sesuai kebutuhan.

Ia membayangkan jika desa-desa di pegunungan dapat mengelola potensi mikrohidro. Desa pesisir memanfaatkan energi angin dan desa dataran rendah mengoptimalkan biomassa. Menurutnya, Indonesia akan meemiliki ribuan unit pembangkit energi skala kecil yang menyebar dan merata.

"Itu dikelola langsung oleh masyarakat, dan mampu mengurangi ketergantungan pada sistem energi terpusat yang rentan gangguan," ucapnya.

Namun, kenyataannya ia banyak melihat pembangunan pembangkit listri berbasis EBT di desa justru terbengkalai.

Sebab, maydyarakat tidak dilibatkan yang akibatnya tidak ada yang bisa merawat ketika alat rusak.

Ia berpendapat, transisi energi tidak boleh hanya dipahami sebagai proyek fisik semata, melainkan juga harus menjadi program pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat.

"Peran perguruan tinggi menjadi sangat strategis. Program Studi Teknik Sistem Energi ITY mencoba menjawab tantangan tersebut dengan mengembangkan model pendidikan yang mengintegrasikan teori, praktik, dan pengabdian masyarakat," paparnya.

Program tersebut memberikan pengalaman kepada mahasiswa agar tidak hanya belajar teknologi mutakhir di kelas atau laboratorium.

Tetapi mereka akan ditugaskan terjun langsung ke desa-desa untuk mengembangkan solusi energi yang sesuai dengan potensi lokal.

Kegiatan pengabdian dan penelitian harus menyesuaikan kondisi sosial, budaya, dan geografis setempat.

"Mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi baru, memperkuat ketahanan sosial, dan menciptakan rasa percaya diri kolektif untuk maju," jelasnya.

Menurutnya, kunci keberhasilan energi bersih bukan hanya pada teknologi canggih, melainkan pada sejauh mana komunitas lokal mampu mengelola.

Pendidikan tinggi, khususnya program studi yang berfokus pada energi baru terbarukan, merupakan pintu masuk penting untuk mencetak calon pemimpin masa depan yang mampu mewujudkan kemandirian energi nasional.

"Bagi calon mahasiswa yang ingin berkontribusi nyata membangun kemandirian energi desa bisa bergabung dengan Program Studi Teknik Sistem Energi ITY," tandasnya.

Ia sendiri aktif mengkaji dan mendampingi inisiatif kemandirian energi di masyarakat.

Semangat itu muncul karena keyakinan adanya masa depan energi bersih Indonesia yang dibangun dari desa-desa, dari masyarakat yang mandiri, dan dari generasi muda yang berani mengambil peran. (oso)

 

Editor : Bahana.
#ITY