JOGJA - Wawasan kebangsaan generasi muda dinilai semakin memudar di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan perubahan zaman.
Dosen Departemen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Grendi Hendrastomo menyebut, generasi saat ini banyak kehilangan konteks tentang nasionalisme.
"Ketika kita bicara disrupsi teknologi, itu mengganggu banyak hal, termasuk wawasan kebangsaan. Banyak konten di media sosial tidak berbobot, dan anak muda tidak memahami nasionalisme itu seperti apa," ujar Grendi kepada Radar Jogja, Minggu (17/8).
Menurutnya, generasi muda hidup di era serba praktis, dengan akses informasi dan hiburan yang instan.
Konteks pendidikan pun dianggap belum sepenuhnya mendukung penguatan wawasan kebangsaan. Ia mencontohkan praktik P5 yang dinilai kurang relevan dengan zaman.
"Anak-anak diminta melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan zamannya. Misal dipaksa nonton film tertentu. Dulu mungkin nonton G30S/PKI dianggap penting, tapi sekarang tidak bisa dipaksakan lagi," ujarnya mencontohkan.
Selain itu, ia juga menyoroti degradasi dalam praktik pendidikan juga terlihat dari berkurangnya tradisi seperti upacara bendera setiap Senin, hingga semakin jarangnya penggunaan bahasa daerah.
Padahal, bahasa adalah bagian dari praktik kebangsaan yang nyata.
"Bahasa Jawa misalnya, sudah tidak lagi dipakai sehari-hari. Di sekolah juga tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib. Akibatnya, identitas lokal perlahan hilang," kata Grendi.
Ia menambahkan, dulu penguatan ideologi pernah dilakukan lewat program penataran P4. Meski cenderung dogmatis, dampaknya cukup kuat dalam menanamkan nilai kebangsaan.
Sementara hari ini, generasi muda lebih disodori konten yang sesuai selera, meskipun kualitasnya tidak selalu positif.
"Disrupsi konten itu nyata. Algoritma media sosial membuat orang hanya melihat hal-hal yang mereka suka. Kalau yang ditonton tidak relevan, otomatis wawasan kebangsaan tidak terbangun," ucapnya.
Dalam jangka panjang, fenomena ini dinilai berbahaya karena dapat mengikis rasa kebersamaan dan identitas sebagai bangsa.
Nilai-nilai seperti gotong royong, tenggang rasa, dan solidaritas sosial bisa semakin memudar.
"Orang merasa menjadi bagian dari Indonesia itu makin berkurang. Kepekaan sosial generasi muda rendah. Jika hal ini terus berlanjut, yang muncul justru sikap egosentris," tegas Grendi.
Ia menegaskan, Pancasila sebagai ideologi bangsa tetap harus digelorakan di tengah arus kapitalisme global. Di satu sisi, itu juga bisa meningkatkan wawasan kebangsaan generasi muda.
"Pancasila harus terus disosialisasikan. Itu landasan agar anak muda tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus modernisasi," tutupnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun