JOGJA - Pasca pelaksanaan screening kesehatan pekan lalu, para siswa Sekolah Rakyat (SR) di DIY sudah diwajibkan untuk menginap di asrama. Beberapa kebiasaan siswa yang kurang baik menjadi perhatian khusus sebagai bahan evaluasi bagi pengurus sekolah.
"Masalah mandi dan tidur teratur itu masih menjadi hal yang sulit buat mereka," ujar Kepala Dinas Sosial (Dinsos) DIY Endang Patmintarsih saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (21/7/2025).
Menurutnya, kebiasaan tersebut secara bertahap akan diperbaiki. Perlahan para siswa dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan peraturan sekolah. Salah satunya adalah terkait tidur dan mandi yang teratur. Bahkan, lanjutnya, pada malam pertama siswa masuk, didapati fasilitas keran air sudah banyak yang rusak. Ia menduga bahwa itu terjadi karena banyak siswa yang tidak terbiasa mandi dengan menggunakan shower dan fasilitas lainnya.
"Malam pertama menginap itu sudah banyak keran yang jebol," bebernya.
Baca Juga: Krisis Kepercayaan dan Minat Sekolah ke SD Negeri Menurun, Orang Tua Siswa Pilih Beralih ke Sekolah Swasta
Beberapa siswa, lanjutnya, juga harus menyesuaikan aktivitas terkait buang air besar (BAB) karena banyak yang terbiasa menggunakan water closet (WC) jongkok. Sedangkan, seluruh fasilitas kamar mandi di SR 20 Sleman adalah WC duduk. Kalau yang di SR 19 Bantul terdapat WC duduk dan jongkok.
"Ada yang tidak bisa ke belakang karena, ya, itu tadi, mungkin (saat) di rumah berbeda," jelasnya.
Kemudian, berkaitan dengan kebiasaan tidur. Banyak para siswa yang masih tidur hingga larut malam melebihi aturan jam tidur asrama SR. Seharusnya, para siswa wajib tidur sebelum pukul 21.00. Agar para siswa bisa mengikuti kegiatan di SR yang dimulai sejak 05.00 pagi.
"Awalnya mereka mungkin sering tidur tengah malam, gitu kan? Atau bahkan masih ada yang di luar rumah," terangnya.
Menurutnya, selama kurang lebih satu pekan berjalan, terdapat perubahan yang signifikan dalam perilaku para siswa. Mereka mulai menyesuaikan dengan peraturan yang ada di asrama. Terlebih mereka juga selalu dipantau dan didampingi oleh para wali asuh di setiap kelompok asrama.
"Pendekatan sosial, ya. Diberitahu, didampingi ketika ada kesulitan apa ngeluhnya ke wali asuh," ucapnya.
Baca Juga: Wacana Lima Hari Sekolah Tuai Protes KONI Purworejo: Atlet dan Pelatih Bisa Kelelahan
Selain penyesuaian terhadap lingkungan, para siswa dituntut mampu beradaptasi dengan keluarga, teman ataupun guru baru mereka. Selama sepekan ini, menurut Endang para siswa mulai kerasan. Ia juga menjamin saat ini para siswa lebih mendapatkan makanan yang bergizi dan teratur dibandingkan sebelumnya saat di rumah.
"seminggu ini sudah kelihatan lah aura-aura mereka, semangatnya, punya greget," tandasnya.
Terpisah, Kepala Sekolah SR Menengah Atas 19 Bantul Agus Ristanto menambahkan, pembekalan dan materi orientasi siswa saat ini terus berjalan. Berkaitan dengan materi wawasan kebangsaan dan baris-berbaris diisi oleh jajaran Kodim. Sedangkan terkait tindakan bullying pemateri diambil dari Bhabinsa setempat.
"Secara umum siswa sudah beradaptasi dengan tata aturan di SR," ujarnya.
Menurutnya, terkait jam tidur siswa yang belum teratur, pihaknya telah melakukan patroli ke setiap asrama. Mulai dari person in charge (PIC) dari kementerian dan kolaborasi dengan para Binmas dan Bhabinsa untuk ikut berkeliling memastikan keamanan dan tidak ada permasalahan di kompleks asrama. (oso/zam)
Editor : Herpri Kartun