Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Krisis Kepercayaan dan Minat Sekolah ke SD Negeri Menurun, Orang Tua Siswa Pilih Beralih ke Sekolah Swasta

Fahmi Fahriza • Selasa, 22 Juli 2025 | 04:26 WIB

Gerry Katon Mahendra, Dosen Administrasi Publik Unisa Yogyakarta
Gerry Katon Mahendra, Dosen Administrasi Publik Unisa Yogyakarta
JOGJA - Fenomena menurunnya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) semakin mengkhawatirkan.

Tren ini dinilai sebagai tanda krisis kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan sekolah negeri.

"Ini menunjukkan ritme yang memprihatinkan dan mencerminkan ada krisis kepercayaan yang berimplikasi menurunnya minat masyarakat ke SD negeri," ungkap dosen Administrasi Publik Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta Gerry Katon Mahendra, Senin (21/7/2025).

Menurutnya, dari perspektif administrasi dan kebijakan publik, setidaknya ada tiga faktor utama penyebab penurunan minat pada SD negeri.

Pertama, kualitas layanan pendidikan yang belum merata, bahkan dalam satu kota atau kabupaten.

Kedua, lemahnya inovasi manajemen sekolah dalam menjawab kebutuhan siswa dan orang tua. "Ketiga, rendahnya promosi dan branding positif sehingga publik cenderung memiliki stigma negatif terhadap SD negeri," ulasnya.

Selain itu, ketimpangan promosi antara sekolah negeri dan swasta juga terlihat jelas. Sekolah swasta lebih gencar berpromosi dan memiliki modal kuat untuk meningkatkan fasilitas dan SDM guru.

"Akibatnya meskipun biaya mahal, orang tua tetap merasa itu pilihan yang worth it," jelas Gerry.

Sementara sekolah negeri, lanjut Gerry, sering terkendala regulasi dan birokrasi yang akhirnya akan membatasi inovasi layanan.

"Orang tua murid saat ini juga sudah aware dan ingin anaknya mendapat pendidikan yang berkualitas, aman, nyaman, dan fasilitas yang baik," tambahnya.

Lebih lanjut kebijakan zonasi yang diterapkan pemerintah sejauh ini memang membantu pemerataan distribusi siswa.

Tetapi menurut Gerry, belum cukup untuk mengatasi penurunan jumlah murid jika tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana.

"Orang tua lebih memilih yang berkualitas meski membayar lebih mahal. Harus ada tambahan kebijakan dan alokasi anggaran yang memadai untuk peningkatan kualitas pendidikan dasar secara menyeluruh," katanya.

Gerry juga menilai pemerintah daerah memegang peranan penting dalam menjaga kualitas dan pemerataan layanan pendidikan dasar.

Pemerintah daerah wajib memeratakan guru, memperbaiki fasilitas sekolah negeri, serta mendukung promosi agar sekolah tetap diminati.

"Sekolah negeri perlu fokus pada pembaruan fasilitas, peningkatan kualitas pengajaran, serta membangun citra positif lewat komunikasi aktif dan transparan," tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya branding sekolah negeri, seperti memanfaatkan media sosial untuk menunjukkan prestasi dan keunggulan sekolah, serta membangun komunikasi positif dengan orang tua.

Dijelaskan, strategi jangka pendeknya adalah memperbaiki kualitas pembelajaran dan fasilitas sekolah negeri agar kembali menarik.

"Strategi jangka panjangnya, reformasi manajemen pendidikan dan inovasi kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman," ujarnya.

Sementara itu, salah satu orang tua siswa di Yogyakarta Lina Herianti yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta, mengaku alasannya karena faktor kualitas dan kenyamanan.

"Memang mahal, tapi kami yakin anak mendapat pembelajaran yang sesuai perkembangan zaman. Fasilitasnya lengkap, dan ada banyak program tambahan yang mendukung bakat anak," tuturnya.

Menurut Lina, meski beban biaya yang dikeluarkan menjadi lebih tinggi, banyak orang tua merasa pengorbanan tersebut sepadan demi masa depan anak.

"Orang tua sekarang lebih kritis. Kami ingin anak punya pengalaman belajar yang baik, tidak sekadar mengejar ijazah," katanya. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#SPMB 2025 #sekolah dasar negeri #unisa #worth it #Administrasi Publik Universitas Aisyiyah #Pendidikan #sd negeri #SDN #kebijakan zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru #Sekolah #Kebijakan Zonasi PPDB #Gerry Katon Mahendra #SPMB Jogja 2025 #Jogja