MUNGKID – Satu siswa di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 43 Magelang di kompleks Sentra Antasena memilih mundur. Bahkan sebelum proses belajar benar-benar dimulai. Siswa tersebut mundur karena memilih melanjutkan pendidikan di pondok pesantren.
Kepala Sentra Antasena Magelang Supriyono mengungkapkan, satu siswa yang sempat diterima di SR memilih untuk mengundurkan diri hanya sehari setelah masa orientasi dimulai pada Senin (14/7). Siswa itu berasal dari Kecamatan Dukun.
Bukan karena tekanan atau ketidakcocokan dengan lingkungan sekolah, namun karena sebuah keputusan pribadi untuk kembali menimba ilmu di pondok pesantren.
"Hari pertama masuk ke sini saja dia datang hanya mengenakan sarung dan peci, tanpa seragam, tanpa tas," katanya, Senin (21/7).
Ternyata, lanjut dia, siswa tersebut memang datang untuk berpamitan. Supriyono bahkan memberikan waktu satu hari bagi anak tersebut untuk berpikir ulang. Namun, keputusan sang anak bulat. Pada Rabu (16/7), siswa itu secara resmi menyampaikan pengunduran dirinya dari SR dan memilih kembali ke pondok di Kecamatan Dukun.
Supriyono mengutarakan, keputusan ini sempat mengundang tanda tanya. Pasalnya, proses pendaftaran awal justru diinisiasi oleh orang tua siswa. Anak tersebut bahkan sempat menyetujui saat dimintai persetujuan. Namun, di hari pertama sekolah, dia berubah pikiran.
Kendati demikian, orang tuanya menerima keputusan sang anak. "Bapaknya menyampaikan ke saya, daripada dipaksa nanti malah berabe. Kita tidak pernah tahu dinamika dalam keluarga atau pondok, tapi secara formal semuanya berjalan baik," ujarnya.
Keputusan mundur siswa tersebut membuka peluang bagi anak lain yang lebih membutuhkan. Kursi kosong segera terisi oleh seorang siswi asal Kecamatan Tempuran.
Anak perempuan ini sebelumnya sempat duduk di bangku SMA, namun terpaksa putus sekolah hanya dua bulan setelah masuk karena tidak mampu membayar biaya pendidikan.
Desil ekonomi anak tersebut, kata dia, justru lebih rendah karena masuk kategori desil 2. Semangatnya lanjut dia, luar biasa. Ketika dikabari untuk segera masuk, keluarganya datang langsung ke sekolah.
“Menangis bahagia karena tidak menyangka anaknya bisa sekolah lagi," ungkap Supriyono.
Siswi pengganti resmi bergabung sejak Kamis (18/7) dan langsung mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Hanya saja, pergantian siswa ini juga mengubah komposisi gender di SRMA 43. Dari semula 48 laki-laki dan 52 perempuan, kini menjadi 47 laki-laki dan 53 perempuan.
Bahkan, satu kamar asrama yang semula diproyeksikan untuk dua siswa kini ditempati sendiri oleh siswi baru tersebut.
"Biasanya kami selalu menyeimbangkan komposisi laki-laki dan perempuan. Tapi ini situasi unik, jadi siswa itu kami tempatkan sendirian," tuturnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo