RADAR JOGJA - Dunia pendidikan di Kabupaten Kulon Progo, masih mempunyai PR besar.
Sebab, belum semua kecamatan atau kapanewon memiliki sekolah.
Khususnya Sekolah Menengah Akhir (SMA) negeri yang keberadaannya belum merata.
Melansir Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kulon Progo, dari 12 total kapanewon di Bumi Binangun ini, hanya dua kecamatan yang tidak memiliki SMA negeri.
Yakni, Kapanewon Panjatan dan Kapanewon Nanggulan.
Padahal, pada sistem penerimaan murid baru (SPMB), jalur radius wilayah sangat penting menentukan siswa mendapatkan sekolah berdasarkan domisili.
Hal ini membuat, orangtua hingga calon siswa kebingungan mencari sekolah yang sesuai dengan keinginan.
"Harus pilih-pilih sekolah. Soalnya di Nanggulan nggak punya SMA Negeri," ungkap Anggi Aulia salah satu wali murid asal Kapanewon Nanggulan.
Anggi hendak mendaftarkan adiknya ke SMA Negeri namun terkendala dan tak banyak pilihan sekolah.
Dia mengungkapkan, SMA Negeri menjadi incaran SPMB.
Oleh sebab itu, jika harus mendaftarkan adiknya ke SMA Negeri yang wilayahnya masuk kapanewon lain, maka persaingannya semakin ketat.
Selain itu, radiusnya jauh.
Disebutkan, Kapanewon Nanggulan terdapat SMA Swasta.
Kendati begitu, biayanya cenderung lebih tinggi dibandingkan negeri.
Sehingga tidak masuk dalam daftar pilihan.
Pilihan terdekat, sekolah di Kapanewon Pengasih maupun Kapanewon Sentolo.
"Tapi kalau (SMA Negeri, Red) di Sentolo ataupun Nanggulan belum ada gambaran sekolah yang cocok," ucap Anggi, Kamis (26/6/2025).
Melalui pertimbangan lama, akhirnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri menjadi satu-satunya pilihan.
Itu pun, di wilayah pengasih yang dinilai representatif. Baik dari program kejuruan, tamatan lulusan, maupun peminatan siswa.
Sekolah tersebut masuk dalam sekolah favorit.
Sebagai wali murid, tentunya menyayangkan dengan kurangnya fasilitas pendidikan khususnya SMA di Kapanewon Nanggulan.
Jika ada minimal satu sekolah SMA dan SMK di setiap kapanewon, siswa dapat memastikan diri masuk ke sekolah terdekat.
Sekolah terdekat dengan kepemilikan pemerintah tentu menjadi idaman bagi orangtua.
Lantaran, sekolah swasta memiliki beban pembiayaan sekolah yang besar.
Orangtua perlu merogoh kocek lebih dalam. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva