Babak final kompetisi ini digelar pada Sabtu (17/5/2025) di Grand Atrium Pakuwon Mall, Surabaya.Kegiatan final terdiri dari dua agenda utama, yaitu Prototype Exhibition dan Presentasi Inovasi di hadapan dewan juri dan seluruh pengunjung.
NFTC 2025 mengangkat tema “Zero to Hero: Utilization of Food by-Product for Indonesia Economic Growth”, sejalan dengan spirit Laudato Si’ yang menekankan pentingnya merawat bumi sebagai rumah bersama dan mendorong keberlanjutan.
Dalam lomba ini, Theo dan Rachel mengusung inovasi bertajuk “Brownies Crispy Banana Peel: Inovasi Crispy Brownies berbasis Tepung Limbah Kulit Pisang Ambon sebagai Snack Bernutrisi, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan.”
Produk ini dikembangkan sebagai solusi pemanfaatan limbah kulit pisang yang selama ini sering terbuang sia-sia, diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, bergizi, serta mendukung pengurangan limbah pangan.
Inovasi ini merupakan langkah konkret dalam mendorong ekonomi sirkular dan ketahanan pangan berkelanjutan.
Kompetisi ini diikuti oleh puluhan tim dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia, seperti UGM, IPB, ITB, dan universitas terkemuka lainnya, menjadikan ajang ini sangat kompetitif dan bergengsi.
Rangkaian perlombaan dimulai sejak Februari 2025 dan melalui tahap seleksi. Pada 3 Mei 2025, diumumkan 10 tim finalis yang lolos ke tahap presentasi yang diselenggarakan secara luring di Surabaya pada 17 Mei 2025.
“Jadi kita di sini pertama bikin essay dulu ya, terus di upload. Yang mana essay-nya itu nggak cuma essay biasa, tapi arahnya itu pertama inovasi, yang kedua bisnis. Dan ditunjukin juga sama pembuatan prototype gitu,” jelas Theo.
Theo dan Rachel menekankan bahwa waktu menjadi tantangan terbesar selama persiapan lomba. Keduanya harus membagi waktu ditengah jadwal kuliah dan praktikum yang padat. Latihan presentasi pun kerap dilakukan malam hari, bahkan hingga larut malam menjelang keberangkatan ke Surabaya.
“Jadi biasanya kita latihannya itu malam-malam. Kemarin sempat jam 4 sore hingga jam 9 malam. Terus waktu h-1 satu berangkat itu kita malamnya masih latihan lagi jam 10,” tambah Theo.
Dosen pembimbing, Benediktus Yudo Leksono, turut mengapresiasi capaian tersebut. “Kompetisi ini sangat bergengsi dan kompetitif. Meski demikian, Theo dan Rachel menunjukkan semangat luar biasa.
Mereka mampu menghadapi pesaing dari universitas ternama serta membagi waktu di tengah kesibukan lain.
Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran penting, tidak hanya dalam berinovasi menyelesaikan permasalahan nyata di masyarakat, tetapi juga melatih ketangguhan menghadapi tantangan kehidupan,” tuturnya.
Keberhasilan ini menjadi motivasi bagi Theo dan Rachel serta mahasiswa UAJY lainnya untuk terus berani ikut dalam kompetisi bahkan hingga tingkat internasional.
Rachel juga menekankan pentingnya kerja tim dalam mencapai hasil terbaik.
“Jujur aja, seneng banget bisa bawa nama FTb dan UAJY ke ranah lomba yang besar banget, terlebih lagi lombanya diadain di mall terbesar di Asia Tenggara dan juga lawannya berat-berat semua. Nervous, takut, bingung semua jadi satu, tapi ya lega pada akhirnya kami bisa ngelewatin itu semua,” ungkap Theo.
Rachel menambahkan, “Seneng bangettt karena ini pertama kali ikut lomba nasional sampai ke Surabaya, dan puji Tuhan bisa dapetin juara.
Effort dan capeknya terbayarkan sama hasilnya, dan rasanya full excited selama di sana karena dapet banyak teman-teman baru dari universitas yang berbeda-beda.”
Prestasi ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen UAJY yang telah mendeklarasikan diri sebagai Universitas Laudato Si’.
Semangat untuk mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan dan kepedulian lingkungan menjadi landasan kuat bagi pengembangan inovasi mahasiswa, khususnya di bidang teknologi pangan.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh civitas academica untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa perubahan positif bagi masyarakat dan lingkungan, sejalan dengan misi besar menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Editor : Bahana.